SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

Oleh : Siusana Kweldju

Karya tulis ilmiah (KTI) bukan karya tulis yang ditulis oleh seorang ilmuwan saja, tetapi oleh siapa pun, misalnya siswa di SMP, SMA, guru, kepala sekolah, mahasiswa perguruan tinggi, peneliti di perusahaan dan di pemerintahan, dsb. Sebenarnya setiap orang dapat menulis KTI, dan bila ada seseorang yang merasa tak mampu menulis KTI, sebenarnya pusat permasalahannya adalah belum ditemukannya cara bagaimana memulai menulis KTI tersebut dan apa sebenarnya isi KTI. Sekalipun demikian, keterampilan menulis KTI itu perlu dipelajari dengan tekun melalui latihan dan pemodelan standar.

Cara yang terbaik memulai sebuah KTI adalah membuat kerangka karangan terlebih dahulu dengan teliti dan bersungguh-sungguh. Ada dua macam kerangka karangan, yaitu:

(a) Kerangka karangan topik yang memuat isi, hubungan logika dan pola struktur KTI, dan

(b) Kerangka karangan analitis adalah kerangka karangan yang menggunakan kalimat lengkap untuk setiap topik.

Kerangka karangan itu sebenarnya tidak ditulis sekali jadi, tetapi perlu terus direvisi, dan terus dikembangkan. Strategi yang dapat digunakan supaya kerangka karangan dapat cepat dibuat, adalah penulis dapat terus bertanya dan bertanya tentang apa yang harus ditulisnya. Misalnya, bila penulis telah menentukan sebuah topik:

Sertifikasi guru mutlak untuk perbaikan kualitas pendidikan.

Penulis dapat mengembangkannya menjadi sebuah kerangka karangan dengan terus-menerus membuat pertanyaan baru, seperti:

§ Mengapa harus mutlak?

§ Bagaimana hubungan antara sertifikasi guru dengan kualitas?

§ Berapa biaya pelaksanaan sertifikasi guru dan apa jadinya bila sertifikasi guru gagal untuk memperbaiki kualitas pendidikan?

Setelah membuat banyak pertanyaan, penulis masih perlu untuk mempertanyakan kembali, pertanyaan mana yang dapat dijawab, yang mana yang sulit dijawab dan yang mana yang tidak perlu dijawab karena beberapa alasan. Penulis sebaiknya tidak perlu menulis tentang pertanyaan yang tidak dapat dijawab.

1. Jenis Karya Tulis Ilmiah

KTI ilmiah itu dapat berupa makalah, kertas kerja, artikel ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis dan disertasi. Namun, salah satu hal penting yang menyatukan semuanya, adalah bahwa penulisan KTI memerlukan dokumentasi. Dokumentasi adalah pengakuan terhadap sumber-sumber informasi penting yang digunakan dalam sebuah KTI. Tanpa dokumentasi, KTI dapat dianggap melakukan plagiarisme, dan dalam dunia akademik, plagiarisme adalah pelanggaran yang serius. Karena itu, referensi adalah bagian yang penting bagi KTI. Inilah yang membedakan KTI dari esei yang biasa. Perbedaan lain dari KTI dibanding esei biasa adalah penulisan KTI itu mengikuti tata aturan yang sudah baku, untuk mempermudah pembaca. Tata cara penulisan ini merupakan perjanjian etika ilmiah yang perlu diikuti penulis KTI manapun.

1.1 Makalah, kertas kerja dan artikel ilmiah

Makalah sebenarnya sama dengan kertas kerja. Perbedaannya adalah kertas kerja itu dikerjakan dengan lebih serius dibanding makalah, dan disampaikan di forum-forum ilmiah maupun praktis yang lebih besar. Makalah lebih banyak ditulis oleh siswa dan mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Biasanya makalah atau kertas kerja ditulis setebal 15 halaman, walaupun ada juga makalah yang setebal 30 halaman. Artikel ilmiah adalah makalah atau kertas kerja yang dipublikasikan di jurnal.

Ada dua macam makalah atau kertas kerja:

(a) makalah riset/makalah referensi/makalah perpustakaan

(b) makalah kritis.

Riset itu memiliki lebih dari 1 makna.

(a) Riset praktis adalah KTI yang ditulis dengan mencari informasi-informasi yang telah terekam dari mana saja, lalu diolah kembali dengan analisis, sintesis dan interpretasi yang baru.

(b) Riset orijinal yang membangun pengetahuan baru dan menjadi informasi baru bagi setiap orang dengan mengadakan riset praktis terlebih dahulu, yang kemudian diikuti dengan pengumpulan data empiris di lapangan.

Makalah kritis atau kritik juga memiliki berbagai makna. Dalam kajian ilmiah, kritis berarti tindakan untuk membuat keputusan yang dapat memilah-milahkan, menilai, atau membuat interpretasi tentang kejadian atau sebuah karya dalam dunia seni, sastra, filsafat, sosial, sains dan sebagainya. Tidak jarang makalah kritis adalah makalah yang kontroversial karena makalah kritis itu memberi evaluasi atas sebuah karya. Tidak selamanya pencipta karya dan pendukungnya dapat menerima evaluasi yang kurang menyenangkan.

Untuk menghindari kontroversi yang tak sehat, penulis perlu jujur secara intelektual; menghindari ungkapan-ungkapan yang emosional; tidak menyampaikan informasi yang hanya benar sebagian, dan menjaga jalan pikiran dengan teratur.

1.2 Skripsi, Tesis dan Disertasi

Skripsi, tesis dan disertasi adalah KTI dalam suatu bidang studi yang masing-masing ditulis oleh mahasiswa program S1, S2 dan S3. Perbedaan ketiganya secara relatif disebabkan oleh kedalaman, keluasan, dan sifat temuan yang lebih asli atau kurang asli, serta kekritisan dalam membahas pendapat orang lain. Temuan pada disertasi dituntut lebih asli dibanding temuan pada tesis dan skripsi. Demikian pula, temuan pada tesis diharapkan lebih asli dibanding temuan pada skripsi. Disertasi dituntut untuk sangat kritis dalam membahas temuan-temuan atau teori-teori yang lain, dan dapat secara tegas menunjukkan posisinya ketika membahas dan mengevaluasi temuan-temuan lain sebelumnya. Disertasi itu biasanya wajib mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dan dengan analisis yang terinci.

Skripsi, tesis dan disertasi adalah KTI yang merupakan riset asli

Skripsi, tesis dan disertasi ditulis dengan terlebih dahulu melakukan riset praktis atau kajian kepustakaan. Karena ketiganya merupakan laporan penelitian lapangan dengan cara mengumpulkan data empiris dari lapangan, ketiganya juga merupakan KTI riset asli.

Ada dua macam riset asli menurut pendekatannya, yaitu yang berpendekatan kuantitatif dan kualitatif. Yang berpendekatan kuantitatif ditulis menurut pendekatan deduktif-induktif. Artinya secara deduktif penulis merumuskan dugaan-dugaan sementara atau hipotesis setelah didukung dengan penelitian praktis, yaitu pada saat melaksanakan kajian pustaka. Dugaan sementara itu melibatkan variable-variabel yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka-angka. Hipotesis itu lalu diuji dengan empiris dengan bantuam prosedur statistik.

Riset asli yang berpendekatan kualitatif digunakan terutama untuk memahami persoalan sosial atau persoalan yang dihadapi umat manusia dengan membangun sebuah gambaran keadaan dengan kompleks dan holistik dalam bentuk cerita. Di dalam cerita itu pandangan responden dilaporkan dengan rinci, demikian pula dengan latar alamiah tempat data diperoleh. KTI riset kualitatif dikembangkan secara induktif. Pandangan responden menjadi komponen yang sangat dominan dalam substansi KTI riset kualitatif. Hal ini berbeda dari substansi KTI riset kuantitatif yang dicetuskan dari identifikasi dan rumusan masalah yang dibuat oleh peneliti.

Skripsi, tesis dan disertasi berbeda dari makalah biasa karena ketiganya perlu dipertahankan di hadapan dewan penguji, dan penulisannya mendapatkan pembimbingan.

2 Struktur Karya Tulis Ilmiah

Struktur KTI ada pada struktur logika yang dapat ditemukan pada garis besar (outline) sebuah karya. Logika merupakan komponen yang sangat penting dalam penyelesaian masalah, dan merupakan aspek yang sangat penting dalam intelegensi. Logika verbal itu merupakah tingkah laku kebahasaan yang meliputi:

(a) berpikir logis

(b) memahami hubungan yang ada di antara gagasan-gagasan

(c) memahami semua aspek permasalahan sebagai satu kesatuan

(d) memusatkan perhatian pada masalah yang sebenarnya.

Logika verbal dalam esei atau KTI tampak pada struktur karangan, yang merupakan hubungan antara satu sub-topik dengan sub-topik yang lain, yang dapat berupa:

1.1 Kronologi yang merupakan pola yang banyak digunakan untuk KTI yang membahas tentang serangkai kejadian-kejadian sejarah. Pola yang digunakan merupakan sederet langkah-langkah proses.

1.2 Deduksi, yaitu cara pengambilan kesimpulan yang barawal dari sebuah proposisi yang dianggap sebagai sebuah kebenaran, dan dari proposisi itu diturunkan gagasan-gagasan baru. Pola pemikiran bergerak dari yang umum ke yang khusus.

1.3 Induksi yang menghendaki penulis KTI mengumpulkan dan menuliskan informasi dengan cukup untuk mengambil sebuah kesimpulan. Jalan pikiran bergerak dari yang khusus ke yang umum.

1.4 Perbandingan dan kontras adalah cara yang sangat umum digunakan untuk menunjukkan persamaan dan perbedaan dua benda, sifat atau keadaan yang layak untuk dibandingkan.

1.5 Spasial, yang banyak digunakan untuk topik-topik yang berkenaan dengan dimensi geografis. Misalnya, bagaimana seseorang menulis tentang satwa yang ada di Kebun Binatang Ragunan. Dalam hal ini penulis dapat menulisnya dengan mulai menulis tentang hewan yang menempati kawasan terdepan, hingga terbelakang.

1.6 Sebab-akibat, sebagai pola yang paling mudah ditemukan dalam penulisan KTI. Hubungan sebab-akibat ini menunjukkan bagaimana sebuah kejadian dapat diikuti oleh kejadian yang lain, dan juga dapat digunakan untuk berspekulasi atau memprediksi kejadian apa yang akan datang di masa mendatang menurut parameter yang ada sekarang.

1.7 Penyelesaian masalah (problem solving) yang diawali dengan identifikai masalah, mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah, dan memilih alternatif yang terbaik untuk menyelesaikan masalah.

Berpikir induktif adalah berpikir yang bergerak dari sebagian menjadi keseluruhan atau dari yang khusus menjadi yang umum. Berpikir induktif dalam tes intelegensi dinyatakan dalam analogi-analogi, seperti:

(a) hubungan seorang pengawas kepada kepala sekolah seperti seorang konselor kepada kliennya.

(b) fungsi perpustakaan untuk sebuah sekolah seperti jantung yang memompa darah bagi makhluk hidup.

(c) senjata bagi seorang prajurit seperti komputer bagi seorang mahasiwa.

Analogi semacam ini bukan sekedar proses membanding-bandingkan, tetapi juga proses pengambilan kesimpulan, pemetaan, aplikasi, dan verifikasi tentang apakah analogi yang dibuat itu cukup adil dan tepat.

Berpikir induktif dalam tes intelegensi juga termasuk berpikir dalam mengklasifikasi dan juga berpikir untuk mengurutkan persoalan dari yang paling penting menjadi yang paling kurang penting.

Berpikir deduktif adalah berpikir dengan membuat silogisme-silogisme, yang terdiri atas linear, kategorial dan kondisional.

Contoh kerangka pikir silogisme linear, sbb.

(a) Tini lebih pandai dari Adi.

(b) Fika lebih pandai dari Tini.

Siapa yang terpandai di antara ketigamya?

Contoh kerangka berpikir silogisme kategorial:

(a) Semua B adalah C.

(b) Semua A adalah B

Semua A adalah C.

Contoh kerangka pikir silogisme kondisional:

(a) Bila A, maka B.

(b) Bila bukan B

Maka bukan A.

About these ads

5 Februari, 2009 - Posted by | Karya Tulis Ilmiah, Uncategorized |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: