SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

STUDI KOMPETENSI GURU IPA FISIKA SMP NEGERI KOTA PONTIANAK DALAM MELAKUKAN PRAKTIKUM DI LABORATORIUM

ABSTRAK. Studi ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kompetensi guru dalam melakukan praktikum, khususnya mata pelajaran IPA Fisika di SMP Negeri Kota Pontianak. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kompetensi guru dalam mengelola praktikum di laboratorium. Hasil studi menunjukkan bahwa guru IPA Fisika SMP Negeri di Kota Pontianak masih jarang melakukan praktikum di Laboratorium. Terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara kompetensi guru IPA Fisika di sekolah yang peringkat baik dengan yang kurang baik dalam mengelola praktikum di laboratorium. Aspek yang dominan dalam perbedaan itu adalah pemahaman terhadap laboratorium, metodologi dan pelaksanaan praktikum di laboratorium serta aspek pendukung lainnya. Di tinjau dari pendapat siswa lebih memilih praktikum dibanding belajar IPA fisika di kelas dengan alasan jika praktikum lebih paham.
Kata kunci: Kompetensi guru, pemahaman terhadap laboratorium, praktikum di laboratorium

I. PENDAHULUAN
Dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat di dalam standar isi, sekolah umumnya dan guru mata pelajaran khususnya harus mampu mengikuti dan merancang strategi pembelajaran yang sesuai sehingga karakteristik peserta didik untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. Terutama pada mata pelajaran IPA dan khususnya mata pelajaran Fisika ditambah munculnya konsep IPA terpadu yang berarti seluruh guru IPA harus mampu menyampaikan konsep Fisika dengan melakukan praktikum di laboratorium maupun di kelas menggunakan alat praktikum IPA.
Pada kurikulum sebelumnya kebanyakan guru IPA dalam menyampaikan konsep Fisika cenderung menggunakan pembelajaran konvensional, artinya guru kebanyakan tidak menggunakan laboratorium sebagai sarana belajar. Kebanyakan guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga pembelajaran tidak menarik dan siswa menjadi bosan dan pada akhirnya siswa tidak mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. Di samping itu pembelajaran IPA tanpa inquiry (menemukan) atau belajar melalui berbuat dan hanya menonjolkan hasil mengingat seperangkat kata-kata, defenisi, hukum-hukum, dan rumus-rumus akan mengakibatkan pengetahuan siswa tidak bertahan lama.
Ada beberapa alasan dari guru yang mengajar IPA bila kita pertanyakan mengapa tidak melakukan praktikum di sekolah antara lain karena tidak mempunyai latar belakang pendidikan IPA atau Fisika. Karena ada beberapa guru yang mengajar IPA mempunyai latar belakang pendidikan di luar IPA. Sebagian lagi menyatakan karena di sekolah mereka tidak tersedia laboratorium atau alat praktikum fisika. Bahkan ada sebagian menyatakan takut alat – alat tersebut bisa hilang diambil siswa kalau kita sedikit lengah untuk mengontrolnya saat melakukan praktikum.
Secara empiris hampir semua sekolah menengah pertama negeri memiliki KIT IPA tersebut, namun berdasarkan informasi dari berbagai monitoring yang dilakukan oleh pihak Dit. Dikdas (1997) dan dari pengamatan penulis ke beberapa sekolah menengah pertama Kota Pontianak belum memanfaatkan KIT IPA secara optimal. Oleh karena itu, untuk mengetahui sejauhmana kompetensi guru melakukan praktikum dengan menggunakan alat IPA maka diadakan penelitian yang berjudul Studi Kompetensi Guru Fisika SMP Negeri Kota Pontianak Dalam Melakukan Praktikum Di Laboratorium.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan permasalahan yang dijadikan landasan dalam studi ini adalah bagaimana kompetensi guru IPA fisika SMP Negeri di Kota Pontianak dalam melakukan praktikum di Laboratorium?
Masalah tersebut kemudian diuraikan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana pemahaman guru fiska terhadap pengelolaan laboratorium?
2. Bagaimana keberhasilan guru fisika melakukan praktikum?
3. Berapa kali guru fisika melakukan praktikum setiap semester?
4. Apa saja hambatan guru fisika melakukan percobaan?
Secara umum tujuan studi ini adalah untuk memperoleh informasi tentang kompetensi guru IPA Fisika melakukan praktikum dengan mengunakan peralatan praktek dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah Menengah Pertama.
Sedangkan tujuan secara khusus adalah untuk memperoleh informasi tentang :
1. pemahaman guru fisika terhadap pengelolaan laboratorium ,
2. keberhasilan guru fisika melakukan praktikum,
3. frekuensi penggunaan laboratorium atau peralatan praktek dalam satu tahun.
4. hambatan guru fisika dalam mengadakan percobaan.
II. KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Kompetensi Guru
Dalam Undang – Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Ada empat kompetensi guru yang harus dimiliki sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
Dalam kompetensi profesional terdapat bahwa guru harus menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Untuk kompetensi guru IPA SMP antara lain (1) Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori IPA serta penerapan secara fleksibel. (2) Memahami proses berpikir IPA dalam mempelajari proses dan gejala alam. (3) Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala alam. (4) Memahami hubungan antar berbagai cabang IPA, dan hubungan IPA dengan matematika dan teknologi. (6) Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum alam sederhana. (7) Menerapkan konsep, hukum, dan teori IPA untuk menjelaskan berbagai fenomena alam. (8) Menjelaskan penerapkan hukum-hukum IPA dalam teknologi terutama yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. (9) Memahami lingkup dan kedalaman IPA sekolah. (10) Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan IPA. (11) Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan kerja/ belajar di laboratorium IPA sekolah. (12) Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung dan piranti lunak komputer untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas dan laboratorium. (13) Merancang eksperimen IPA untuk keperluan pembelajaran atau penelitian. (14) Melaksanakan eksperimen IPA dengan cara yang benar. (15) Memahami sejarah perkembangan IPA dan pikiran – pikiran yang mendasari perkembangan tersebut.
B. Pembelajaran Fisika
Mempelajari Fisika pada prinsipnya tidak cukup sekedar menghafal suatu konsep melalui buku pelajaran, namun lebih dari itu belajar Fisika pada hakekatnya merupakan suatu proses dan produk. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya pengamatan/observasi suatu obyek atau gejala alam, melakukan pengukuran, membuat hipotesis, mendisain, menguji data, dan melakukan percobaan. Dengan melibatkan peserta didik melakukan percobaan, maka mereka akan lebih mudah memahami hasil pembelajarannya secara utuh. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar, guru dituntut untuk menguasai keterampilan proses IPA. Pembelajaran Fisika yang baik dan benar, tidak dapat dipisahkan dengan keterampilan proses IPA yang berkaitan dengan konsep Fisika itu sendiri. Untuk melaksanakan pembelajaran Fisika secara utuh, berikut ini penulis sajikan suatu model pendekatan sederhana pembelajaran IPA yang mengacu pada teori konstruktivisme (diadaptasi dari Osborn (1985: 103) dalam Muhammad Natsir (2000: 18).
Dalam proses pembelajaran tersebut, guru merupakan faktor yang esensial dan strategis dalam menentukan keberhasilan tujuan pembelajarannya. Oleh karena itu, kemampuan dan keterampilan guru dalam penguasaan konsep-konsep IPA sangat menentukan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran konsep-konsep Fisika dengan menggunakan alat yang tersedia.
C. Penggunaan Laboratorium IPA
IPA bukanlah sekedar kumpulan konsep dan pengetahuan tetapi juga proses bagaimana konsep dan pengetahuan tersebut diperoleh. IPA dapat digunakan untuk mengembangkan daya pikir, pengetahuan, keterampilan motorik, dan sikap ilmiah. Belajar IPA bukan hanya membaca dan menghafal konsep tetapi yang lebih penting adalah menghayati bagaimana konsep IPA ditemukan melalui percobaan atau eksperimen yang dilakukan di laboratorium.
Laboratorium IPA merupakan (1) tempat bekerja untuk mengadakan percobaan atau penyelidikan. (2) Sarana penunjang pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas. (3) Berupa ruang tertutup atau ruang terbuka (lingkungan di luar kelas). (4) Sarana pengembangan kompetensi siswa baik kognitif, psikomotorik, maupun afektif. (5) Sarana pengembangan kompetensi sosial siswa.
Tujuan penggunaan laboratorium IPA adalah (1) mengembangkan keterampilan siswa dalam hal pengamatan, pencatatan data, dan penggunaan alat. (2) Melatih siswa bekerja cermat dan disiplin. (3) Mengembangkan daya pikir siswa melalui analisis dan penafsiran hasil percobaan. (4) Mengembangkan kejujuran dan kerja sama serta rasa tanggung jawab.
Fungsi Laboratorium IPA adalah
• Menggambarkan konsep-konsep IPA yang abstrak
• Mengembangkan konsep dan prinsip IPA
• Mengembangkan keterampilan proses sains (IPA)
• Sarana pendidikan untuk pelatihan
• Membangun dan mengembangkan rasa ingin tahu tentang alam lingkungan.
Peranan Laboratorium IPA dalam pembelajaran adalah menumbuhkan dan mengembangkan:
• Keterampilan dalam pengamatan, pengukuran, dan pengumpulan data.
• Kemampuan menyusun data dan menganalisis serta menafsirkan hasil pengamatan.
• Kemampuan menarik kesimpulan secara logis berdasarkan hasil eksperimen, mengembangkan model dan menyusun teori.
• Kemampuan mengkomunikasikan secara jelas dan lengkap hasil-hasil percobaan.
• Keterampilan merancang percobaan, urutan kerja, dan pelaksanaannya.
• Keterampilan dalam memilih dan mempersiapkan peralatan dan bahan untuk percobaan.
• Keterampilan dalam menggunakan peralatan dan bahan.
• Kedisiplinan dalam mematuhi aturan dan tata tertib demi keselamatan kerja.

III. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini berupa Studi kajian dengan desain penyebaran instrumen seperti kuesioner, wawancara, tes praktek dan observasi. Dalam penelitian ini penulis berorientasi pada kompetensi guru SMP Negeri melakukan praktikum di laboratorium. Maka sasaran garapannya adalah individu manusia. Adapun populasi di maksud dalam hal ini adalah siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di wilayah Kota Pontianak, dan guru IPA yang mengajar di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di wilayah Kota Pontianak. Penulis membatasi areal penelitian yaitu pada areal kelas VIII dan guru IPA pengajar kelas VIII yang terdiri dari :
a. Siswa kelas VIII sebanyak 30 orang
b. Guru IPA yang mengajar kelas VIII sebanyak 6 orang
Populasi yang dijadikan objek studi ini adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama Negeri yang berada di Kota Pontianak, serta semua guru yang mengajar IPA baik yang telah mengikuti penataran penggunaan alat IPA maupun yang belum. Adapun responden dalam studi ini meliputi 1 orang guru yang mengajar IPA di kelas VIII dan 5 orang siswa kelas VIII, Sedangkan sampel yang terpilih berdasarkan peringkat hasil UN tahun 2007 adalah sekolah kategori baik, sedang dan kurang sebanyak 6 sekolah.
Alat pengumpul data yang dipergunakan studi ini adalah terdiri dari seperangkat instrumen : (1) kuesioner guru, (2) wawancara guru dan siswa kelas VIII, , serta (3) pedoman observasi pelaksanaan praktek.
Hasil pengumpulan data dari sampel enam sekolah menengah pertama negeri di Kota Pontianak akan diolah menggunakan program SPSS dengan rincian sebagai berikut :
1. Pemahaman guru fisika terhadap pengelolaan laboratorium
2. Keberhasilan Guru fisika Melaksanakan Praktikum
Keberhasilan guru melaksanakan Praktikum ditinjau dari latar belakang kualifikasi akademik, dan kemampuan melaksanakan praktikum
3. Frekuensi penggunaan laboratorium
Untuk mengetahui frekuensi penggunaan percobaan setiap sekolah dan pokok bahasan mana yang sering dilakukan percobaan di laboratorium.
4. Hambatan Pelaksanaan Praktikum di Laboratorium
Dalam hal ini diketahui apa saja penyebab pelaksanaan praktikum tidak dilaksanakan di laboratorium.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari profil sekolah dan responden guru yang terlibat dalam penelitian ini dapat kita lihat sekolah yang peringkat baik, lebih baik dalam melakukan praktikum dibanding sekolah peringkat kurang baik. Disamping kualifikasi guru di sekolah kurang baik tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, sehingga kendala mereka melakukan praktikum karena kurang paham.
Di samping itu guru IPA Fisika di SMP Negeri Kota Pontianak yang mengikuti pelatihan mengenai penggunaan laboratorium umumnya baru satu kali dan pelaksanaannya sudah beberapa tahun yang lalu bahkan ada yang belum pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan. Ada juga guru yang belum sarjana dan ada sarjana tidak sesuai dengan kualifikasinya.
Pemahaman guru terhadap laboratorium dapat kita lihat pada tabel 4.1 berikut. Komponen penguasaan guru terhadap laboratorium adalah laboratorium dan fungsinya, Keselamatan kerja di laboratorium, Pengenalan bahan fisika, Pengenalan alat-alat laboratorium, Penggunaan Alat/perangkat praktek fisika, penataan alat dan bahan dan pengadministrasian alat dan bahan. Penguasaan guru pada setiap aspek dibagi dalam tiga kategori yaitu baik, sedang dan kurang.
Tabel 4.1. Penguasaan Guru Terhadap Laboratorium
gbr-1

Dari tabel 4.1. menunjukkan bahwa umumnya guru IPA SMP Negeri di kota Pontianak belum menguasai laboratorium, terbukti dari jawaban responden rata-rata menyatakan sedang dan kurang masih tinggi. Pemahaman penulis antara sedang dan kurang hampir sama artinya guru belum memahami atau menguasai komponen yang ditanyakan. Pemahaman terhadap laboratorium dan fungsinya berkaitan dengan makna pengelolaan laboratorium, fungsinya, struktur laboratorium dan fasilitas umum laboratorium dengan kategori baik (45,8 %). Artinya tidak semua guru memahami laboratorium terutama guru yang tidak menjadi penanggungjawab laboratorium. Sebaiknya semua guru yang bukan penanggungjawab laboratorium memahami dengan baik tentang laboratorium dan fungsinya. Pemahaman terhadap keselamatan kerja di laboratorium dengan kategori baik (62,5%). Hal ini memang perlu terutama tata tertib, alat-alat keselamatan kerja dan pertolongan pada kecelakaan kecil.
Pemahaman guru terhadap pengenalan bahan fisika dengan kategori baik (23,3%). Bahan fisika yang dimaksud tentang klasifikasinya, spesifikasinya dan fungsinya masih kurang sehingga bagaimana mungkin bisa melakukan praktikum dengan baik. Pemahaman guru terhadap pengenalan alat-alat laboratorium dengan kategori baik hanya 26,7 %. Pemahaman guru terhadap pengenalan alat-alat laboratorium sangat diperlukan agar pelaksanaan praktikum berjalan dengan baik. Pemahaman guru terhadap penggunaan alat/ perangkat praktek fisika dengan kategori baik (36,2 %). Hal ini berarti masih banyak alat/perangkat praktek fisika tidak dipahami guru SMP negeri Kota Pontianak cara penggunaannya. Hal ini sangat diperlukan pemahaman bagi guru agar pelaksanaan praktikum tidak salah, keliru sehingga mengakibatkan kegagalan praktikum.
Pemahaman guru terhadap penataan alat dan bahan dengan kategori baik (22,2 %). Hal ini biasanya ditata oleh laboran namun guru juga harus paham penataan ini dengan baik sehingga kalau melakukan praktikum guru mengetahui dimana letak alat dan bahan tersebut. Pemahaman guru terhadap pengadminis- trasian alat dan bahan dengan kategori baik (26,3 %). Hal ini berkaitan dengan pemahaman guru terhadap buku katalog, kartu alat dan bahan daftar inventaris penggunaan komputer program Microsoft Excel masih kurang.
Sebelum melaksanakan praktikum perlu kesiapan guru melaksanakan praktikum antara lain ruangan yang dipakai sudah tertata rapi, peralatan yang tersedia sudah dicek sebelumnya, dan perangkat mengajar apakah lengkap atau tidak lengkap. Tabel 4.2. menunjukkan kesiapan guru melaksanakan praktikum.
Tabel 4.2. Kesiapan Guru Melaksanakan Praktikum
gbr2

Dari tabel 4.2 dapat kita lihat bahwa semua sekolah yang menjadi sampel sudah memiliki laboratorium. Berkaitan dengan peralatan masih semua mengeluhkan kekurangan alat walupun saat observasi SMPN “A” dan SMPN “B” menyatakan alat yang digunakan lengkap.
Dari enam sekolah sebagai sampel salah satu sekolah tidak dapat melakukan kegiatan pembelajaran berhubung guru IPA di kelas VIII anaknya sakit, dan menurut informasi tidak pernah melakukan praktikum. Dari tabel kita perhatikan masih banyak guru yang melakukan praktikum kelihatannya tidak siap. Ini menunjukkan bahwa penggunaan laboratorium di SMP Negeri di kota Pontianak kebanyakan tidak melakukan praktikum IPA Fisika di laboratorium. Hal ini juga diinformasikan guru yang menjadi responden di SMP Negeri “E” mengaku beliau sendiri satu-satunya guru IPA di sekolah tersebut menggunakan laboratorium dan melakukan praktikum. Didukung oleh wawancara dengan siswa bahwa kebanyakan siswa menjawab baru satu kali praktikum yaitu pada hari itu saja.
Ketrampilan guru memulai pembelajaran dapat dilihat dari aspek menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi dan memberi acuan. Dari tabel 4.3. kita lihat SMPN “C” dan SMPN “E” kurang menarik perhatian siswa dan pola interaksi umumnya searah dari semua responden. Artinya siswa kurang aktif bahkan tidak ada satupun siswa yang mengajukan pertanyaan. Demikian juga minat siswa belajar kurang di SMPN “C”, SMPN “D” dan SMPN “E”. Pada aspek memberi acuan rata-rata sudah baik cuma dalam hal mengajukan pertanyaan masih jarang di SMPN “C” dan SMPN “E”.
Tabel 4.3. Keterampilan Guru Membuka Pelajaran Praktikum

gbr3

Kunci utama kompetensi guru nampak pada saat guru menjelaskan kepada siswa. Beberapa aspek kompetensi guru seperti guru menggunakan kalimat yang mudah dipahami siswa, tidak berbelit-belit, menggunakan contoh dan illustrasi yang relevan, menggunakan pola atau struktur sajian yang jelas, guru mahir menggunakan alat atau mendemonstrasikan alat di depan siswa tentu guru juga menguasai materi.

Tabel 4.4. Kegiatan inti pembelajaran praktikum

bgr4

Tabel 4.4. menunjukkan bahwa guru kurang mahir memperagakan alat praktikum dan hal ini yang menjadi alasan yang sering digunakan guru sehingga jarang melakukan praktikum. Di samping itu juga kompetensi guru dalam penguasaan materi masih kurang, di samping kualifikasi guru yang tidak sesuai, guru juga sebagian besar masih baru diangkat sebagai guru PNS.
Pengertian guru menggunakan variasi adalah upaya guru dalam mengurangi rasa bosan selama pembelajaran berlangsung, sehingga dapat tercipta ketekunan siswa, minat dan peran aktif dalam interaksi pembelajaran.
Pada umumnya ketrampilan guru menggunakan variasi berkaitan dengan posisi guru, penggunaan media yang bervariasi, interaksi siswa dengan siswa dan siswa dengan guru, memusatkan perhatian siswa pada kebenaran prosedur kerja percobaan dan dalam penyelesaian soal-soal fisika.
Tabel 4.5. Keterampilan Guru Menggunakan Variasi
gbr-5

Tabel 4.5. menunjukkan semua guru menggunakan gaya bervariasi. Hal ini berkaitan dengan siswa dibagi dalam kelompok dalam melakukan percobaan, guru berkeliling ke setiap kelompok memandu siswa melakukan percobaan.
Salah satu ketrampilan guru yang menuntut kemampuan adalah bertanya. Pengertian guru bertanya adalah ungkapan verbal yang meminta respon dari peserta didik. Kemampuan guru bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan peserta didik berpikir. Ketrampilan guru bertanya diawali dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya ada tiga yaitu menuntun, melacak dan memberi pertanyaan yang sama pada siswa yang berbeda dengan jenis pertanyaan yang bervariasi.Pertanyaan menuntun adalah pertanyaan yang diajukan dengan didahului penjelasan – penjelasan dan pertanyaan dimlai dari yang sederhana menuju yang kompleks. Pertanyaan melacak adalah meminta siswa memberi penjelasan atas jawaban yang dikemukakan, memberi alasan dan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Tabel 4.6. Keterampilan Guru Bertanya
gbr6

Dari tabel 4.6. dapat terlihat masih dominan ketrampilan guru bertanya masih kurang baik. Pertanyaan yang diajukan guru umumnya dijawab oleh siswa secara bersama-sama atau klasikal. Bukan perseorangan atau individu. Kemudian semua responden tidak memberi kesempatan berpikir siswa sebelum menjawab pertanyaan.
Pengertian pemberian penguatan di sini dimaksudkan perlakuan guru dalam merespon secara positif suatu tingkah laku peserta didik sehingga dapat timbul kembali. Dalam keterampilan penguatan guru lebih banyak menggunakan: (a) penguatan lisan, yaitu pujian: baik, baik sekali, ya betul, pertanyaan yang baik, dan (b) penguatan isyarat, yaitu senyum serta anggukan yang berarti setuju dengan pendapat siswa. Namun, dalam hal ini tidak ada satupun yang memberi pujian (reward) dengan cara kontak melalui tepuk pundak.
Tabel 4.7. Keterampilan Guru Memberi Penguatan
gbr7

Tabel 4.7. menunujukkan bahwa semua guru memberi penguatan namun kebanyakan hanya penguatan lisan dan penguatan dengan isyarat. Hanya guru di SMP Negeri D yang memberi pujian kepada siswa yang presentasi di depan dengan tepuk tangan secara bersama-sama.
Pengertian menutup pelajaran di sini adalah kegiatan guru dalam mengakhiri kegiatan pembelajaran, sehingga memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian (daya serap siswa) dan tingkat keberhasilan siswa selama mengikuti pembelajaran. Keterampilan menutup pembelajaran, meliputi (a) meninjau kembali apa yang telah disampaikan/diterangkan, yaitu merangkum dan mengevaluasi pembelajaran melalui tes lisan maupun tertulis. Hal tersebut dilakukan guru yang mengajar di sekolah yang baik. Sebaliknya, hal itu tidak terjadi di SMP Negeri C dan SMP Negeri E. Berikut ini gambaran keterampilan guru menutup pelajaran pada akhir pembelajaran.
Tabel 4.8. Keterampilan Guru Menutup Pelajaran Praktikum
No Aspek SMP A SMP B SMP C SMP D SMP E SMP F
1. Guru merangkum/ meringkas inti pelajaran Ya, disimpulkan guru sendiri Ya, bagus Ya, benar Ya, siswa kedepan Tidak, pertemuan berikutnya
-
2. Guru mengevaluasi daya serap pembelajaran melalui tes lisan atau tulisan Ya, dengan menjawab soal dalam LKS Ya, Ada pertanyaan dalam LKS dijawab Tidak, Ya, Ada pertanyaan dalam LKS Tidak, waktu untuk percobaan tidak cukup -

Yang dimaksud dengan keterampilan guru mengelola kelas adalah kemampuan guru dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif (menunjang) sehingga sedikit kemungkinan mengalami gangguan selama proses belajar-mengajar berlangsung melalui cara remidial dan atau mendisiplinkan siswa sesuai dengan peraturan sekolah yang berlaku. Kelemahan guru dalam pengelolaan kelas adalah jarangnya guru melakukan kontrol melalui perhatian penyampaian penjelasan praktikum ke seluruh siswa, terutama siswa yang duduk di bangku belakang. Berikut ini keterampilan guru dalam mengelola kelas.
Tabel 4.9. Keterampilan Guru Mengelola Kelas
No Aspek SMP A SMP B SMP C SMP D SMP E SMP F
1. Menciptakan dan memelihara pembelajaran secara optimal (pengaturan sarana yang ada di dalam kelas) Ya, praktikum berkelompok Ya, praktikum berkelompok Ya, mengerjakan soal didepan Ya, Praktikum Ya, Praktikum -
2. Guru menunjukkan sikap tanggap, memberi reaksi terhadap gangguan atau keka cauan siswa Tidak, ada gelas beker pecah disenggol siswa Ya, membimbing siswa secara sabar Ya, membimbing siswa agar membaca bukunya Tidak, Siswa banyak ribut Tidak, tidak menegur siswa yang terlambat -
3. Guru memberi perhatian via teguran dan peringatan Tidak, gelas pecah tak ditegur Ya, menegur siswa yang ribut Ya, menegur siswa agar idak ribut Tidak menegur siswa ribut. Tidak, tidak ada teguran -
4. Guru memodifikasi tingkah laku Tidak Ya, mengurangi kegaduhan Ya, mengurangi kegaduhan Tidak Tidak, banyak curhat ke peneliti selama KBM -

Dari tabel 4.9. dapat ditunjukkan bahwa guru umumnya menegur siswa yang ribut namun siswa umumnya tak menghiraukan teguran guru, terutama gurunya seorang wanita. Berkaitan dengan siswa dalam kelompok sering sesama siswa saling mengganggu. Untuk SMPN A sampai gelas beker dipecahkan oleh siswa yang gaduh tidak diberi sanksi oleh guru.
Mengacu pada Satpel dan RPP, ketercapaian pembelajaran erat kaitannya dengan penggunaan waktu yang tersedia secara efektif (time on task), metode penyampaian dan penggunaan alat bantu belajar-mengajar. Indikator keberhasilan dapat dipantau dari seberapa banyak siswa yang dapat menjawab pertanyaan guru baik secara lisan maupun tertulis. Sekalipun demikian, hasil pembelajaran penyampaian pokok bahasan masih di bawah 50 % di dua SLTP kategori kurang baik. Berikut ini ketercapaian pembelajaran IPA Fisika di sekolah sampel dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 4.10. Ketercapaian Pembelajaran
No Aspek SMP A SMP B SMP C SMP D SMP E SMP F
1. Waktu yang tersedia mencukupi untuk pencapaian materi yang diajarkan Ya Ya, Ya, Tidak, melewatkan waktu Tidak, pertemuan berikutnya
-

2. Siswa dapat menjawab pertanyaan lisan maupun tertulis Ya, dengan menjawab soal dalam LKS Ya, Ada pertanyaan dalam LKS dijawab Tidak, Sebagian Tidak, waktu untuk percobaan tidak cukup –

Dari tabel 4.10. dapat diperlihatkan untuk sekolah yang kategori peringkat lebih rendah, guru belum bisa mengatur waktu yang tersedia, sehingga pembelajaran tidak tuntas. Dalam hal siswa menjawab pertanyaan lisan sangat rendah, siswa umumnya menjawab pertanyaan yang ada di LKS walaupun kelihatan tidak semua siswa terlibat menjawab pertanyaan di LKS dalam kelompoknya.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Pemahaman guru terhadap aspek-aspek laboratorium seperti fungsinya, keselamatan kerja, pengenalan alat dan bahan, penggunaan alat, penataan dan pengadministrasiannya masih kurang. Terutama untuk pengenalan bahan fisika kategori baik hanya 23,3 %.
2. Dari 5 orang guru yang berhasil diobservasi melakukan praktikum di laboratorium hanya 2 guru yang berhasil melakukan praktikum dengan tuntas. Ini menandakan guru tersebut jarang melakukan praktikum di laboratorium.
3. Hanya satu orang guru yang sering melakukan praktikum di laboratorium, sedang yang lainnya jarang bahkan ada yang tidak pernah. Alasannya kurang menguasai penggunaan alat laboratorium.
4. Hambatan guru IPA Fisika melakukan percobaan antara lain alat-alat yang tersedia kurang dan tidak lengkap, siswa di laboratorium ribut, guru kurang menguasai beberapa konsep IPA Fisika.

B. Saran/Rekomendasi
1. Perlunya lembaga terkait memprogramkan pelatihan bagi guru IPA Fisika dalam hal melakukan praktikum sehingga guru semakin paham melakukan praktikum.
2. Dalam MGMP agar guru-guru IPA Fisika meningkatkan kompetensinya secara berkolaborasi melalui program Lesson Study.
3. Perlunya Kepala Sekolah mendukung pengadaan alat-alat laboratorium dan mendorong guru-gurunya menggunakan laboratorium.
4. Sebaiknya Kepala Sekolah mendorong guru – guru IPA pada tahun ajaran baru sudah mempersiapkan LKS yang akan dipraktikkan dan menyimpan alat-alat percobaan di tempat yang mudah untuk digunakan.
5. Guru-guru IPA Fisika agar meningkatkan pemahamannya terhadap pengelolaan laboratorium dan meningkatkan frekuensinya menggunakan laboratorium dalam praktikum fisika.

DAFTAR PUSTAKA

(2006), Standar Isi. Permendiknas No. 22 Tahun 2006. Depdiknas, Jakarta.

(2006), Standar Kompetensi Lulusan. Permendiknas No. 23 Tahun 2006. Depdiknas, Jakarta.

Suharjono (2006), Karya Tulis Ilmiah Dan Penelitian, Makalah pada Pembekalan Pengembangan Profesi bagi Jabatan Fungsional Kepala Sekolah yang dilakukan di Hotel Virgo, Batam.

Mulyasa, E. (2006). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.

Setiawati, Tati. (2007). Teori Belajar dan Implementasinya dalam Pembelajaran IPA. PPPPTK IPA. Bandung.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Permen diknas No. 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik dan Standar Kompetensi Guru.

Depdiknas, (2003). Pendekatan Konstektual (Contextual teaching and Learning). Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Jakarta.

Sholahuddin, Arif (2006). Pembelajaran IPA dan Sikap Positif Terhadap Lingkungan. Karya Tulis. Pusat Statistik Pendidikan, Balitbang-Depdiknas. Jakarta.

Mundilarto (2007) Pengelolaan Laboratorium IPA, Makalah pada Diklat Laboran IPA LPMP Seluruh Indonesia. PPPPTK IPA, Bandung.

About these ads

20 Februari, 2009 - Posted by | Karya Tulis Ilmiah

11 Komentar »

  1. Iteennggggggg lae lojahian ma au manjaha palatugani ganjanghian tekjo..
    Horas lae baen jolo angka bahasa pakkat i ate
    Nunga hu downlaod nakirim mi lae alai nadapot holan prediksi kunci jawaban do, molo adong nian ate prediksi soal UN 2009 utk SMA jurusan IPS tolong lae majolo dah..
    Horas mardongan mauliate

    Komentar oleh Mr Bin | 20 Februari, 2009

  2. maaf saya mengcopy data buat tugas. terima kasih

    Komentar oleh hissolihin | 5 Maret, 2009

  3. berilas kiat atau metode untuk pembelajaran fisika didaerah pedalaman yang tidak punya apa apa

    Komentar oleh winner | 3 April, 2009

  4. Terima kasih pak ya, saya ikut dawnload nih, untuk nambah-namabah isi perpustakaan. Bila ada mohon dikirim ke email ku tentang profil laboratorium IPA yang standar (lengkap dengan foto-fotonya).

    Terima kasih
    Success for you.

    Komentar oleh MARYOTO | 9 Mei, 2009

  5. saya senang membaca artikel bapak, yang tepat membidik permasalahan yang dihadapi guru fisika saat ini. Terus berkarya cerdaskan anak bangsa!!

    Komentar oleh yustina k | 6 Juni, 2009

  6. wew……

    Komentar oleh agun | 5 Juli, 2009

  7. Ingin makalahnya? silahkan kirim email ke jep_lpmpkalbar@yahoo.co.id

    Komentar oleh jeperis | 9 Oktober, 2009

  8. wah boleh nih, ikut ngopi buat tugas n kembangkan di sekolah Gue…?He……..Thanks ya

    Komentar oleh ikhot | 4 Desember, 2009

  9. Salam Kenal Buat Mr. Jeperis.
    Thanks for your article,and Thats very good. I Hope you can give or send your complete article to me. Please because I need some reference for my research. Thanks very much before. Good Luck Mr. Jepperis!!! ( farikhiaman@yahoo.co.id )

    Komentar oleh Aman Farikhi, S.Pd | 21 Maret, 2010

  10. Terimakasih ya, Pak. ini sangat membantu dalam tugas perkuliahan, semoga sama-sama berguna bagi kita bersama, dan teruslah berkarya

    Komentar oleh Januar | 26 Juni, 2010

  11. salam kenal,,Jeperis ,,mau bagi2 ilmu gratis disini,,kunjungi blogku yach,boleh tukeran link ya

    Komentar oleh yoyon | 20 Oktober, 2010


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: