PRIHATIN DENGAN SALAH SATU SEKOLAH DI KAB. LANDAK
Ditulis oleh jeperis di/pada 24 Maret, 2009

SD N 40 PELUNTAN
Kurang lebih 1 jam naik ojek melalui perkebunan sawit di daerah berbukit-bukit dari desa Jelimpo, kec. Jelimpo, Kab. Landak tibalah kami di desa Peluntan Sengkunang, salah satu desa terpencil menurut pemikiran saya (namun tidak termasuk desa terpencil menurut Pemerintah). Mengingat sinyal HP dan listrik belum ada di desa tersebut.
Di desa tersebut terdapat satu Sekolah Dasar yaitu SD Negeri 40 dengan NSS 101.13.09.02.040 yang cukup memprihatinkan. Sekolah dengan jumlah siswa kurang lebih 122 orang dari kelas 1 sampai kelas 6 belajar di 3 ruangan yang bangkunya tidak layak di zaman teknologi sekarang ini.
Setiap ruangan diisi 9 pasang kursi dan bangku yang reot.

Hanya ini buku yang tersedia
Sehingga tidak dapat dilaksanakan pembelajaran kelas rangkap. Jadi setiap hari terpaksa diadakan pembelajaran 2 shift. Untuk kelas 1, 2 dan 3 masuk pukul 8.00 dan pulang pukul 10.30 wib. Untuk shift 2 kelas 4, 5 dan 6 masuk pukul 11.00 sampai pukul 14.00 wib.

Kondisi bangku
Sekolah ini memiliki Kepala Sekolah penduduk asli desa tersebut, namanya Pak Rikanto. Menurut penduduk setempat beliau tidak pernah masuk sekolah, Tapi biasanya bekerja noreh karet dan di perkebunan setempat.
Di sekolah tersebut sebenarnya ada 3 orang guru PNS (termasuk KS) ditambah 3 orang honor (termasuk 1 guru agama yang tidak pernah digaji). Dari tiga guru PNS hanya satu orang yang aktif mengajar. Seorang lagi malah buka warung di Kantor perkebunan yang ada di dekat desa tersebut.
Yang sangat memprihatinkan dana BOS dari 122 guru tersebut, tidak tahu dikemanakan, Yang jelas hanya menggaji guru honor 2 orang masing-masing 300 rb perbulan. Sedangkan beli kapur saja, biasanya dari kocek guru PNS yang aktif mengajar tersebut.
Pengawas sekolah yang membina sekolah tersebut juga kewalahan membina sekolah tersebut. Dengan pemberitaan ini, kiranya Pemerintah segera menanggapi keluhan masyarakat di sana agar anak-anak mereka benar-benar dapat belajar dengan layak.
Baca juga : Dua Ribu Ruang Kelas SD di Kalbar Rusak Berat

Lantai semen yang hancur

Plang SD N 40 Peluntan

Ruang guru dan kepsek

Jalan menuju desa Peluntan











Mr Bien berkata
Memang semua sekolah sekolah yang ada di pelosok sungguh mengkawatirkan, apalagi di kampung kita lae di daerah Sipagabu,Banuarea
Sementara di perkotaan kadang masih layak pakai sudah direnovasi, karena anggaran utk pemeliharaan sekolah itu mungkin lebih banyak di perkotaan dekat dengan pemerintah sehingga yg jauh jauh dari tahun ke tahun tak pernah di renovasi.
Horas ma da di lae…
jeperis berkata
Itulah lae…kadang orang daerah yang tidak mau peduli memperbaiki kampungnya. Kalau tidak ada usulan dari daerah mana mau pemerintah memperhatikan.
Di kampung kita juga sama, tidak saling mendukung untuk marsipature hutana be. Sukses selalu.
putra landak berkata
bagai mana nih tindakan instansi terkait dengan masalah seperti itu,tolong di perhatikan pak karna salah satu paktor penting penunjang suksesnya pendidikan di daerah adalah bangunan fisik dan pengajar yang memang mempunyai jiwa untuk mengabdi terutama di daerah pedalaman,karena selama ini yang ada para guru yang di tugaskan di pedalaman slalu mangkir dari tugasnya…tolong pak di tindak oknum pegawai yang seperti itu….maju landak n pendidikan nya.
Jhoni Banyuke- Anik-Pampang berkata
sungguh memprihatinkan…Mengapa pejabat menutup mata dengan fakta yang ada..?? kepala sekolah tolong sadar akan tigas dan tanggungjawabmu, jangan hanya mau makan dana BOS saja tanpa tujuan yang jelas.
jeperis berkata
Buat Putra Landak dan Jhoni Banyuke :Mari kita sama-sama menyadarkan pendidik akan tugas dan tangungjawab mereka. Saya rasa Pemerintah sudah berupaya membantu kita…walaupun belum maksimal. Prihatin memang…Sukses selalu.