SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

Saatnya School Reform agar Tercipta Learning Community

A. Pendahuluan
Salah seorang guru Sekolah Dasar pada saat Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mandiri di desa Nanga Merakai Kecamatan Ketungau Hilir kabupaten Sintang pada bulan April 2007 yang lalu bertanya kepada penulis, kami pernah mendengar istilah ‘reformasi sekolah’ yang disampaikan oleh LPTK, apa maksudnya reformasi sekolah itu? Tiba-tiba saya terdiam, sebab saya tak menyangka informasi tentang reformasi sekolah juga sudah sampai ke daerah. Dalam hati saya ternyata daerah juga tidak ketinggalan informasi sebagaimana diduga banyak orang. Perlu diketahui desa Nanga Merakai dari Kota Sintang satu-satunya melalui Sungai kapuas naik Speedboat kurang lebih 3 jam.
Di Negara kita saat krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997 muncul istilah reformasi yang menuntut rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto segera diakhiri. Di balik tumbangnya kepemimpinan Soeharto, Suasana reformasi yang diharapkan ternyata berubah dengan kebebasan yang sangat berlebihan, yang begitu terbuka tanpa mampu dikontrol. Mengingat saat reformasi berjalan aparat keamanan yang bertugas memiliki kelemahan sehingga tidak mampu menahan gejolak reformasi yang diartikan banyak orang bebas dan terbuka.

B. Apa itu School Reform?

Saat mengikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Widyaiswara dalam Pemahaman Lesson Study, tanggal 12 sampai dengan 16 Maret 2007 di PPPPTK IPA Bandung, menurut Dr. Istamar Syamsuri, M.Pd sekolah di Jepang pernah mengalami keruntuhan. Hal itu diakibatkan adanya persaingan siswa yang sangat ketat untuk memasuki sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk dapat bersaing maka siswa harus mengikuti tes dan lulus dengan memuaskan. Untuk dapat lulus tentu siswa harus menguasai materi pelajarannya, sehingga yang dipentingkan dalam pembelajaran adalah hafalan. Akibatnya ada siswa yang tidak berhasil dan ada siswa yang berhasil. Dari anak-anak yang berhasil juga tidak dapat membuahkan kreativitas. Di samping itu siswa yang tidak berhasil menimbulkan berbagai permasalahan sosial misalnya, siswa suka membolos dari sekolah, terjadi perkelahian antar siswa (tawuran), kenakalan remaja, prestasi di sekolah makin rendah, frustasi bahkan ada siswa yang bunuh diri. Sekolah yang tidak dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan prestasi siswanya rendah akibat permasalahan siswanya itu dikenal sebagai sekolah yang runtuh. Berdasarkan hasil survai PISA menunjukkan bahwa hasil belajar siswa di Jepang menurun, sehinga dilakukanlah reformasi sekolah (school reform).
Jadi apakah school reform (reformasi sekolah) itu?
Reformasi sekolah adalah suatu perubahan paradigma dan sikap dari setiap stakeholder pendidikan dalam hal :
• Menghargai hak setiap orang untuk belajar
• Mengembangkan interaksi yang saling menghargai dan saling menghormati
• Menghargai keanekaragaman siswa baik karakteristik siswa, sosial, emosional, budaya dan sebagainya.
• Guru berusaha profesional, mengutamakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru.
• Menciptakan lingkungan belajar
• Mau membuka kelas.
Jadi reformasi sekolah merupakan perubahan pola pikir, perubahan sikap dan mengutamakan belajar bukan perubahan dengan pembangunan gedung sekolah yang mewah dan fasilitasnya atau perubahan fisik sekolah.
C. Bagaimana reformasi sekolah di Indonesia?
Melihat mutu pendidikan di Indonesia secara umum dari tahun ke tahun semakin rendah dibanding dengan negara-negara lain maka pemerintah selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikan. Sejalan dengan otonomi daerah yang digulirkan pemerintah, Departemen Pendidikan Nasional juga menggulirkan otonomi sekolah dengan program MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah) yang lebih dikenal dengan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Manajemen Berbasis Sekolah merupakan manajemen sekolah yang diarahkan pada kepentingan dan peningkatan kualitas pembelajaran khususnya dan pengelolaan sekolah pada umumnya, dengan menggali dan mendayagunakan sumber-sumber yang ada di lingkungan sekolah. MBS merupakan bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan, yang ditandai adanya kewenangan pengambilan keputusan yang lebih luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang relatif tinggi, dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.

D. Bagaimana reformasi sekolah di Kalimantan Barat?
Reformasi sekolah di Kalimantan Barat kelihatannya masih berjalan lambat. Posisi mutu Pendidikan di Kalimantan Barat sangat jauh dibanding Provinsi lain di Indonesia. Bahkan mutu pendidikan SMP berdasarkan hasil olahan UAN 2006/2007 paling buruk seregional Kalimantan. Dari data perolehan nilai baik sekali untuk Kalbar terendah yaitu 1, 98 persen, disusul Kalteng 6,38 persen, Kalsel 6,30 persen dan Kaltim 15,38 persen. Perolehan nilai baik Kalbar juga menempati posisi terbawah yaitu 12, 5 persen, Kalsel 42,19 persen, Kalteng 54, 52 persen dan Kaltim 59,04 persen. Posisi terendah juga diduduki Kalbar pada perolehan nilai kurang 33,54 persen, Kalsel 10,14 persen dan Kaltim 1,26 persen. Sementara Kalteng nol persen. Untuk perolehan nilai kurang dari hasil UAN lagi-lagi Kalbar menduduki rangking pertama yaitu 6,65 persen, Kalsel 0,28 persen. Sedangkan Kalteng dan Kaltim nol persen. (Pontianak Post, 28/2/2008).
Pengalaman saat mewawancarai seleksi calon kepala sekolah di beberapa kabupaten di Kalimantan Barat tahun 2007 yang lalu bahwa umumnya mereka tidak memahami MBS sehingga mengajukan makalah saat seleksi calon kepala sekolah berjudul MBS.
Sebenarnya ada lima hal yang perlu kita perhatikan pentingnya reformasi sekolah di Kalimantan Barat. Pertama, Kepala sekolah perlu melakukan perubahan kepemimpinan yang selama ini dijalankan. Membuka kesempatan kepada setiap guru melakukan inovasi. Jangan sampai ada kepala sekolah menyatakan guru tidak becus mengajar bila melakukan terobosan-terobosan baru dan inovasi baru dalam pembelajaran di kelas. Kedua, guru perlu melakukan perubahan-perubahan dan inovasi – inovasi pembelajaran. Jangan sampai guru hanya datang masuk kelas pulang. Di dalam kelas pembelajaran yang dilakukan hanya ceramah, marah, ulangan dan kasih tugas. Untuk dapat mewujudkan reformasi sekolah dan mutu pendidikan, diperlukan profil profesi guru (1) memiliki kepribadian matang dan berkembang, (2) penguasaan ilmu, (3) keterampilan membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (4) mengembangkan profesi berkelanjutan. Efektivitas proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas sangat ditentukan oleh kompetensi guru, disamping faktor lain seperti anak didik, lingkungan, dan fasilitas. Guru tidak hanya memerankan fungsi sebagai subyek yang mentransfer pengetahuan kepada anak didik, melainkan juga melakukan tugas-tugas sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator dalam proses belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Untuk dapat menjalankan tugas-tugas secara efektif dan efisien para guru harus memiliki kompetensi tertentu. Sebagai “instruktur leader” guru harus memiliki sepuluh kompetensi, yakni mengembangkan kepribadian, menguasai landasan kependidikan, menguasai bahan pengajaran, menyusun program pengajaran, melaksanakan program pengajaran, menilai hasil dan proses belajar-mengajar, menyelenggarakan program bimbingan dan konseling, menyelenggarakan administrasi sekolah, kerjasama dengan sejawat dan masyarakat, dan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran. Ketiga, siswa benar-benar belajar. Jangan sampai siswa hanya melakukan keributan di kelas. Tidak mau belajar. Antar siswa harus terjadi persaingan yang sehat dalam meningkatkan kompetensinya. Keempat, Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam mendukung proses pendidikan. Namun banyak orangtua tidak peduli dengan apa yang dikerjakan dan diperlukan oleh sekolah dalam membelajarkan siswa. Tanpa peran orangtua dan masyarakat mustahil mutu pendidikan di Kalimantan Barat dapat meningkat. Kelima, Peran pemerintah mendukung program yang direncanakan oleh sekolah sangat diharapkan. Saat ini pemerintah sudah menggulirkan berbagai program dalam bentuk block grant seperti revitalisasi KKG/MGMP, KKKS/MKKS dan KKPS/MKPS walaupun pada tahun 2008 tidak maksimal akibat pemotongan anggaran.
C. Apa itu Learning Community?
Menurut Dr. Istamar Syamsuri, M.Pd, Learning community merupakan suatu komunitas belajar di lingkungan sekolah di dalamnya berlangsung proses belajar membelajarkan antara siswa-siswa, guru-siswa, guru-guru, guru-kepala sekolah, sekolah-masyarakat. Dari defenisi tersebut kelihatannya tidak ada yang baru dari pelaksanaan pembelajaran saat ini. Namun dalam implementasinya tidak mudah dilaksanakan.
Selama ini berlaku pandangan bahwa tugas guru mengajar, mendidik, dan tugas siswa belajar. Di berbagai kesempatan kepala sekolah atau guru senantiasa memberi nasehat kepada siswanya bahwa siswa harus belajar. Tugas siswa belajar dan belajar agar diperoleh prestasi tinggi dan lulus ujian. Jika siswa berprestasi dalam ujian maka prestasi sekolah akan meningkat.
Teknik menumbuhkan komunitas belajar di lingkungan sekolah yang harus dilakukan guru adalah mengurangi ceramah di depan kelas karena siswa menjadi pasif. Guru harus memperbanyak kegiatan siswa seperti berdiskusi, melakukan observasi, tugas membuat skema/gambar, menyusun kliping, membuat grafik.tabel, merumuskan masalah, membuat hipotesis, membuktikan hipotesis, melakuka eksperimen, melaporkan kegiatan.
Bagaimana implementasi menumbuhkan komunitas belajar di sekolah misalnya seorang guru mengajar pada 4 kelas. Dalam satu kelas terdapat 40 orang siswa. Jadi guru tersebut mengajar 40 x 4 = 160 orang siswa. Jika guru menugaskan kepada setiap siswa untuk membuat satu kliping setiap semester. Maka dalam satu semester terdapat 160 kliping. Dalam satu tahun terkumpul sebanyak 160 x 2 = 320 buah kliping. Kalau ada 3 orang guru saja yang menugaskan membuat kliping sudah terkumpul 960 buah kliping. Jika satu orang siswa cukup 3 halaman saja membuat kliping maka ada 960 x 3 = 2880 halaman. Lalu dikelompokkan, yang sejenis dibendel dijilid dan dimasukkan ke dalam perpustakaan. Dan guru harus selalu menggunakan kliping tersebut sebagai sumber belajar.
D. Penutup
Berdasarkan uraian di atas sudah saatnya reformasi sekolah diberi perhatian lebih, guru dapat mengembangkan konsep reformasi sekolah yang dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dengan reformasi sekolah akan membangun komunitas belajar, guru mau membuka kelas sehingga konsep lesson study yang digulirkan pemerintah menjadi suatu konsep terciptanya komunitas belajar dan belajar saling menguntungkan (mutual learning).

Bahan rujukan :
1. Istamar Syamsuri (2007), Reformasi Rekolah dalam membangun komunitas belajar, makalah pada Diklat Kompetensi Widyaiswara dalam pemahaman Lesson Study di Bandung.
2. Mungin Eddy Wibowo (2006), Peran guru dalam reformasi sekolah, www. Sekolahkehidupan.com
3. Sawali Tuhusetya (2007), Reformasi sekolah, kepemimpinan feodalistis dan KTSP,

4 November, 2008 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: