SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

Investasi Manusia

Oleh : Samiri, S.Pd*)

(Mohon pembaca memberi masukan atas hasil kerja Diklat KTI guru berprestasi ini)

 

Betapa beratnya tugas kita sebagai guru atau dosen. Apalagi untuk meningkatkan IPM daerah ini. Sementara tingkat kesejahteraan guru atau dosen masih rendah. Jelas tak seimbang antara tugas yang diemban dengan imbalan yang diterima.

 

Masa depan Kalbar sangat ditentukan oleh ”bagaimana daerah ini melakukan investasi manusia”. Posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita saat sekarang ranking 27 nasional dan terendah di Kalimantan. Mengapa ? Karena rata-rata angka lama sekolah masyarakat kita hanya 6,3 tahun atau di bawah 7,1 tahun. Angka buta huruf sekitar 86,9 persen atau di bawah 89,5 persen; angka usia harapan hidup 64,4 tahun atau di bawah 66,2 tahun; dan pengeluaran riil Rp. 580,4 ribu atau di bawah 591,2 ribu.(BPS Kalbar :2006)

 

Bagaimana mengatasi masalah tersebut? Apa pun program yang direncanakan, dan bagaimana pun program yang akan dilakukan, akan tidak akan mendorong peningkatan IPM kita jika tidak menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas dan tujuan utama pembangunan. Itulah sebabnya pentingnya melakukan ”investasi manusia”.

 

Di sini, pembangunan manusia bukan hanya sebatas memenuhi yang bersifat kuantitatif, namun menyangkut kualitas manusia itu sendiri. Bahasa sederhana adalah peningkatan kualitas peserta didik. Siapakah yang menjadi ujung tombak peningkatan kualitas peserta didik ini? Jawabnya adalah guru atau dosen tanpa mengesampingkan peran fungsi lapisan masyarakat yang heterogenitasnya cukup berpengaruh.

 

Undang-Undang Guru dan Dosen (UU Nomor 14 Tahun 2005) sebagai harapan guru atau dosen semakin sejahtera, semakin profesional, dan semakin membaik tingkat ekonominya. Ini adalah sebuah revolusi industri pendidikan di negeri ini. Percaya atau tidak dengan gejolak peningkatan pendapatan (finansial) guru atau dosen banyak tanggapan dari pihak-pihak tertentu yang merasa ”terganggu” kesejahteraannya.

Ini sebuah kemajuan dalam industri pendidikan. Pemerintah sudah menunjukkan kesungguhan dan keseriusannya dalam bidang pendidikan. Kehadiran UU guru dan dosen telah mengangkat harkat dan martabat kehidupan kalangan pendidikan. Penjaminan hak dan kewajiban guru dan dosen dalam menjalankan dan meningkatkan profesionalitas dan kompetensi guru dan dosen. Memajukan profesi serta karier guru dan dosen. Meningkatkan kinerja, kredibelitas, eksistensi, loyalitas, dan kinerja guru dan dosen.

 

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan penddikan menengah. (Bab I. Ps.1:1). Suatu ketentuan umum yang mengikat dan sarat dengan tanggungjawab akademis bagi guru dan dosen. Mampukah kita menyempurnakan dan melaksanakan beban ini. Segala-galanya ada pada kita.

 

Jika dicari perimbangan material dengan mobilitas kinerja guru dan dosen, jika boleh disebut sebagai keseimbangan yang belum simetris antara hak dan kewajiban serta imbalan yang diterima. Sesungguhnya apa pun dan berapa pun yang diberikan pemerintah, itu masih jauh dari cukup. Namun sinergis dengan kewajiban kita sehari-hari, kita masih terlalu banyak mengharapkan kesejahteraan ketimbang unjuk kerja. frofil etos kerja kita masih dangkal. IPM di atas membuktikan itu.

 

Pendidikan adalah pencitraan loyalitas dari sebuah kearifan ilmu yang tertuang dalam afektivitas manusia yang progresif dalam potret kehidupan. Adanya perubahan sikap dan tingkah laku yang aktual dan dipertahankan dalam keharusan hidup secara total.

 

Citra publik seorang guru dan dosen selalu nota bene dengan kambing hitam sebuah kekeliruan kompleksitas pendidikan. Dari segala lini dan hampir menyeluruh. Nasib guru dan dosen dalam sebuah perundangan sepertinya penjelmaan tingkat keharusan kinerja yang potensial untuk menuai kontradiksi komulatif.

 

Apa yang bisa dan sudah dikerjakan guru dan dosen seperti fatamorgana. Berkilau tanpa kepastian dan keaslian. Karena kalangan luar guru dan dosen masih menyimpan kebelumpastian terhadap kinerja dan etos kerja guru dan dosen. Mereka mengaktualisasi lisan dengan balutan cemburu sosioekonomi yang penuh ketidakpastian dan ketidakbenaran.

 

Profesi guru dan dosen dicap sebagai pekerjaan sampingan. Hasil pendidikan dalam satu periode tertentu belum mencukupi hasrat orang tua. Banyak anak didik yang tertunda kesempatan berhasilnya. Lagi-lagi guru dan dosen sebagai tumbal dan wadah kekeliruan/kesalahan. Para orang tua punya mimpi indah dari sebuah proses pendidikan bagi anak-anaknya. Mimpi indah itu terkadang tidak sinergis dengan  kesungguhannya dalam memberikan suport belajar kepada anaknya. Bahkan terkontaminasi dengan argumen anaknya yang cendrung membela diri dalam ketidakberhasilan edukasinya.

 

Amanat Pasal 8 dalam UU guru dan dosen; bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Adalah sebuah kemustahilan dan ”impossible” jika guru dan dosen tidak mampu mengaktualisasikan dalam bentuk unjuk kerja dengan mobilitas dan inovasi serta motivasi yang tinggi.

 

Ketetapan pemerintah menetapkan 20 persen dari APBN harus dialokasikan dan digunakan dibidang pendidikan merupakan suatu pemikiran dan tindakan yang harus diketahui dan dipahami oleh jajaran penyelenggara pendidikan.

 

Ketentuan-ketentuan lain yang mengikat harus dimengerti oleh pelaku pendidikan di lapangan agar tidak terjadi ketimpangan penafsiran terhadap sebuah kebijakan. Apakah kita sudah melakukan apa yang sesungguhnya kita lakukan. Guru dan dosen sudahkah memenuhi kewajibannya. Siswa dan mahasiswa sudahkah menjalankan kewajibannya. Orang tua mampukah mengiringi keberhasilan anaknya dalam belajar. Masyarakat, mampukah mengontrol pelaksanaan/ jalannya pendidikan yang sinergis dengan arus globalisasi dewasa ini. Patut kita renungkan dan kita lakukan bersama. Ini sebuah revolusi industri bidang pendidikan. Jangan ada sengketa diantara kita. Pemerintah, pengajar, pembelajar, orang tua dan masyarakat harus melakukan pemikiran, tindakan, dan solusi yang sama.

 

Revolusi bidang pendidikan harus dilakukan. Tidak ada tawaran untuk tidak melakukannya. Tingkat IPM kita masih dibawah rerata. Akankah angka keabadian itu yang kita pertahankan.

 

Penulis adalah guru SMAN Subah Kab. Sambas

Peserta Pembekalan bagi Guru Berprestasi Kalbar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18 November, 2008 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: