SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

Unas dalam Dilema

Peserta Diklat KTI guru berprestasi

Peserta Diklat KTI guru berprestasi

Hasil karya : Musa Alamsyah

(Mohon pembaca memberikan masukan atas hasil karya ilmiah populer Diklat KTI guru berprestasi ini)

Setiap akhir tahun pelajaran kita selalu dibebani dengan sebuah permasalahan yang tak pernah selesai/ tuntas. Ketidaktuntasan itu disebabkan oleh kompleksitas problematika pendidikan. Mulai dari kesiapan siswa dalam belajar, daya inovatif guru yang kurang profesional, media pembelajaran yang seadanya, lingkungan belajar yang kurang kondusif dan tidak memadai, dukungan orang tua yang sangat minim, serta responsibiliti masyarakat yang tak sempurna.

          Ujian Nasional (Unas) adalah pertempuran hidup – mati nasib anak bangsa. Bukan hanya siswa namun kita semua. Implikasi negatif menyelimuti dunia pendidikan. Buruknya perolehan angka dalam Unas akan menuai kecaman dari berbagai elemen masyarakat. Pertama kurikulum yang dipakai, setelah itu guru yang memberikan materi/pembekalan ilmu, selanjutnya proses pembelajaran yang belum terukur dan sarana prasarana yang dipakai dalam proses pembelajaran yang belum lengkap.

          Masyarakat tidak perduli dengan alasan dan kenyataan yang kita lakukan. Mereka menginginkan hasil maksimal yang  diperoleh siswa. Tidak ada alasan krusial untuk sebuah kesuksesan proses pembelajaran. Mereka hanya mengetahui bahwa segalanya harus baik dan sempurna.

          Kebijakan mentri pendidikan dalam menentukan nilai minimal kelulusan yang didukung oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) disinyalir kurang menguntungkan peserta didik. BSNP mematok angka mulai dari 4,25 hingga kenaikan menjadi 5,25 dianggap membebani keberhasilan akademik peserta didik. Jumlah mata pelajaran dari tiga mata pelajaran menjadi enam mata pelajaran yang di-Unas-kan dinyatakan sebagai pembunuh kesempatan untuk kelulusan.

          Ujian Nasional lewat Paket A (SD), Paket B (SLTP) dan Paket C (SLTA) bukan merupakan solusi terbaik, namun merupakan pengkotakan status peserta didik untuk kelanjutan pendidikannya. Tidak ada yang istimewa dalam Program Paket A, B dan C. Peserta didik merasa diperlakukan tidak senonoh dalam proses akhir dari sebuah pembelajaran. Belum lagi model pelaksanaan ujian kesetaraan (Paket) ini tidak sesempurna pelaksanaan ujian nasional utama. Dimaklumi atau tidak ini merupakan proses penghancuran secara perlahan terhadap etika kependidikan.

          Krisis kepercayaan yang muncul dalam dunia pendidikan sesungguhnya telah lama terjadi. Hanya saja dari kalangan pengambil kebijakan tidak menepis issu negatif itu malah sebaliknya bukan solusi yang disuguhkan namun emosi.

          Keterlibatan BSNP dalam urusan ujian nasional khususnya dan dalam dunia pendidikan umumnya sesungguhnya belum banyak membantu memecahkan problematika pendidikan bahkan terindikasi memperlebar dan memperruncing permasalahan pendidikan. Pemerintah (dalam hal ini menteri pendidikan) belum mampu berbuat banyak. “Barangkali” urusan pendidikan sudah tercemar politik. Bisa jadi.

          Dalam permainan angka-angka, untuk kelulusan standar, angka 4,25 adalah angka signifikan untuk meraih kelulusan. Pada level ini terjadi stagnasi perolehan nilai objektif. Begitu dinaikkan menjadi 5,25 semakin tidak objektif. Solusinya banyak yang masuk kotak (ujian paket).

Unas adalah problematika nasional pendidikan sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda kesempurnaan. Paket bukan solusi terbaik. Tingkat akurasi keterukuran target dan ketercapaian materi masih dibawah rata-rata perolehan angka minimal. Perbandingan kuantitas dengan kualitas masih dibawah standar rata-rata minimal. Penyebaran materi pembelajaran tidak terakomodir dengan sempurna kedalam butir soal yang ditampilkan. Butir soal hanya mengukur kognitif saja sementara afektif dan psikomotor terabaikan (tidak terakomodir).

Hasil buruk yang ditampilkan peserta didik membuat orang tua meradang dan mencari celah kesalahan dan ketidaksempurnaan penyelenggara Unas. Pada umumnya yang dijadikan kambinghitam atas kegagalan Unas adalah guru dan sekolah. Pada hal keberhasilan Unas merupakan tanggungjawab bersama yaitu ; pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Nasib peserta didik dipermainkan dan dipertaruhkan dalam fenomena kegagalan. Tim Pemantau Independen (TPI) sesungguhnya belum bisa berbuat banyak bahkan terindikasi sebagai tim pemantau insiden dari sebuah kegagalan yang terencana.

Kalangan universitas menomorduakan lulusan paket. Dunia usaha mengesampingkan ijasah lulusan paket. Sepertinya fenomena baru dalam dunia pendidikan akan semakin sendu dimasa depan. Kalau tidak ada formulasi baru, (trik-trik cantik) dalam menyikapi keadaan ini maka kita akan menuai kegagalan yang berkepanjangan.

Dari tahun ke tahun pelaksanaan Unas selalu diwarnai kontradiksi antara keberhasilan dan kegagalan sebuah proses penyelenggaraan pendidikan. Semakin banyak melibatkan institusi non pemerintah maka semakin banyak menuai kesalahan. Sesungguhnya pencitraan pendidikan sudah ternodai oleh kebijakan irrasional yang memilukan.

Kemana pendidikan kita akan kita kiblatkan. Apakah ke perolehan angka-angka (ijasah) atau ke perolehan materi pembelajaran atau keterampilan (skiil). Sebuah pekerjaan rumah yang cukup membebani dan menyulitkan kita semua.

 

Penulis adalah Guru SMAN 1 Mempawah Kab. Pontianak

Peserta Pembekalan bagi Guru Berprestasi Kalbar

19 November, 2008 - Posted by | Artikel

1 Komentar »

  1. […] UASBN dalam Dilema […]

    Ping balik oleh INOVASI PENDIDIKAN » UASBN Dalam Dilema | 14 Mei, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: