SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN KELAS

a. SEJARAH KELAHIRAN PTK

Konsep penelitian guru mula-mula dikemukakan oleh Lawrence Stenhouse di United Kingdom (UK), yang mengaitkan antara Penelitian Tindakan (action research) dan konsepnya tentang guru sebagai peneliti. Kemudian John Elliot mempopulerkan Penelitian Tindakan sebagai metode guru mengadakan penelitian di kelas mereka melalui Ford Teaching Project dan selanjutnya mendirikan jaringan PTK (Classroom Action Research Network).

Selanjutnya Stephen Kemmis memikirkan bagaimana konsep Penelitian Tindakan ini diterapkan pada bidang pendidikan. Berpusat pada Deakin University di Australia, Kemmis dan koleganya telah menghasilkan suatu seri publikasi dan materi pelajaran tentang Penelitian Tindakan, Pengembangan Kurikulum dan Evaluasi. Selanjutnya, artikel mereka mengenai Penelitian Tindakan (Kemmis 1982, 1983) bermanfaat untuk pengembangan Penelitian tindakan dalam bidang Pendidikan.

b. PENGERTIAN PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom action Research merupakan suatu model penelitian yang dikembangkan di kelas. Ide tentang penelitian tindakan pertama kali dikembangkan oleh Kurt dan Lewin pada tahun 1946. Menurut Stephen Kemmis (1983), PTK atau action research adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan sendiri; (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan (David Hopkins, 1993:44). Sedangkan tim pelatih proyek PGSM (1999) mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan (M. Nur, 2001). Baca lebih lanjut

27 Maret, 2009 Posted by | Penelitian Tindakan Kelas | | 10 Komentar

UJIAN NASIONAL DALAM DILEMA

Oleh: Musa Alamsyah

Setiap akhir tahun pelajaran kita selalu dibebani dengan sebuah permasalahan yang tak pernah selesai/ tuntas. Ketidaktuntasan itu disebabkan oleh kompleksitas problematika pendidikan. Mulai dari kesiapan siswa dalam belajar, daya inovatif guru yang kurang profesional, media pembelajaran yang seadanya, lingkungan belajar yang kurang kondusif dan tidak memadai, dukungan orang tua yang sangat minim, serta responsibiliti masyarakat yang tak sempurna.

Ujian Nasional (Unas) adalah pertempuran hidup – mati nasib anak bangsa. Bukan hanya siswa namun kita semua. Implikasi negatif menyelimuti dunia pendidikan. Buruknya perolehan angka dalam Unas akan menuai kecaman dari berbagai elemen masyarakat. Pertama kurikulum yang dipakai, setelah itu guru yang memberikan materi/pembekalan ilmu, selanjutnya proses pembelajaran yang belum terukur dan sarana prasarana yang dipakai dalam proses pembelajaran yang belum lengkap. Baca lebih lanjut

25 Maret, 2009 Posted by | Artikel | | 1 Komentar

PRIHATIN DENGAN SALAH SATU SEKOLAH DI KAB. LANDAK

SD N 40 PELUNTAN

SD N 40 PELUNTAN

Kurang lebih 1 jam naik ojek melalui perkebunan sawit di daerah berbukit-bukit dari desa Jelimpo, kec. Jelimpo, Kab. Landak tibalah kami di desa Peluntan Sengkunang, salah satu desa terpencil menurut pemikiran saya (namun tidak termasuk desa terpencil menurut Pemerintah). Mengingat sinyal HP dan listrik belum ada di desa tersebut.

Di desa tersebut terdapat satu Sekolah Dasar yaitu SD Negeri 40 dengan NSS 101.13.09.02.040 yang cukup memprihatinkan. Sekolah dengan jumlah siswa kurang lebih 122 orang dari kelas 1 sampai kelas 6 belajar di 3 ruangan yang bangkunya tidak layak di zaman teknologi sekarang ini.

Setiap ruangan diisi 9 pasang kursi dan bangku yang reot.

Hanya ini buku yang tersedia

Hanya ini buku yang tersedia

Sehingga tidak dapat dilaksanakan pembelajaran kelas rangkap. Jadi setiap hari terpaksa diadakan pembelajaran 2 shift. Untuk kelas 1, 2 dan 3 masuk pukul 8.00 dan pulang pukul 10.30 wib. Untuk shift 2 kelas 4, 5 dan 6 masuk pukul 11.00 sampai pukul 14.00 wib.

Kondisi bangku

Kondisi bangku

Sekolah ini memiliki Kepala Sekolah penduduk asli desa tersebut, namanya Pak Rikanto. Menurut penduduk setempat beliau tidak pernah masuk sekolah, Tapi biasanya bekerja noreh karet dan di perkebunan setempat.

Di sekolah tersebut sebenarnya ada 3 orang guru PNS (termasuk KS) ditambah 3 orang honor (termasuk 1 guru agama yang tidak pernah digaji). Dari tiga guru PNS hanya satu orang yang aktif mengajar. Seorang lagi malah buka warung di Kantor perkebunan yang ada di dekat desa tersebut.

Yang sangat memprihatinkan dana BOS dari 122 guru tersebut, tidak tahu dikemanakan, Yang jelas hanya menggaji guru honor 2 orang masing-masing 300 rb perbulan. Sedangkan beli kapur saja, biasanya dari kocek guru PNS yang aktif mengajar tersebut.

Pengawas sekolah yang membina sekolah tersebut juga kewalahan membina sekolah tersebut. Dengan pemberitaan ini, kiranya Pemerintah segera menanggapi keluhan masyarakat di sana agar anak-anak mereka benar-benar dapat belajar dengan layak.

Baca juga : Dua Ribu Ruang Kelas SD di Kalbar Rusak Berat

Lantai semen yang hancur

Lantai semen yang hancur

Plang SD N 40 Peluntan

Plang SD N 40 Peluntan

Ruang guru dan kepsek

Ruang guru dan kepsek

Jalan menuju desa Peluntan

Jalan menuju desa Peluntan

24 Maret, 2009 Posted by | Berita | | 8 Komentar

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH BAGI PENGAWAS SEKOLAH

A. Pengantar

Ada enam dimensi kompetensi pengawas satuan pendidikan yang telah disyahkan oleh BSNP dengan Peraturan Menteri No. 12 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pengawas. Ke enam dimensi kompetensi tersebut adalah kompetensi kepribadian, kompetensi social, kompetensi supervise manajerial, kompetensi supervise akademik, kompetensi evaluasi pendidikan dan kompetensi penelitian pengembangan.

Pada bulan November tahun 2006 bersamaan dengan uji publik standar kualifikasi dan kompetensi pengawas satuan pendidikan yang dilaksanakan BSNP di 33 propinsi, Direktorat Tenaga kependidikan melaksanakan uji coba tes kompetensi pengawas pendidikan menengah dengan mengunakan instrumen uji kompetensi yang telah disusun berdasarkan enam dimensi kompetensi di atas. Hasil uji coba tes kompetensi pengawas satuan pendidikan menunjukkan bahwa secara nasional nilai rata-rata penguasaan kompetensi pengawas satuan pendidikan adalah 39,55 dari maksimum skor 70 atau baru mencapai 56,50 %. Penguasaan kompetensi tersebut dinilai masih rendah sebab belum mencapai 69 %. Khusus untuk pengawas pendidikan menengah nilai rata-ratanya mencapai 39,74 artinya sedikit berada di atas rata-rata nasional (39,74 > 39,55).

Dari enam dimensi kompetensi pengawas satuan pendidikan, ada tiga dimensi kompetensi yang nilainya di bawah nilai rata-rata keseluruhan kompetensi. Ketiga kompetensi tersebut adalah kompetensi supervisi manajerial (37,18), kompetensi supervisi akademik (36,30) dan kompetensi penelitian dan pengembangan (38,15). Baca lebih lanjut

23 Maret, 2009 Posted by | Penelitian Tindakan Sekolah | | 117 Komentar

ToT CALON INSTRUKTUR KKG TAHUN 2009

Peserta

Peserta

Kelanjutan dari rangkaian kegiatan program pemberian block grant bagi KKG (Kelompok Kerja Guru) Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 adalah pelaksanaan Training of Trainer (ToT) bagi calon Instruktur pada kelompok masing-masing.
Pelaksanaan berlangsung mulai tanggal 11 s.d. 17 Maret 2009 bertempat di LPMP Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan ini dihadiri sekitar 114 guru Sekolah Dasar calon instruktur KKG penerima block grant. Dari 114 orang guru tersebut setiap KKG diundang 3 orang sebagai calon Instruktur yang dibagi menjadi 3 kelas A, B dan C.
Baca lebih lanjut

19 Maret, 2009 Posted by | KKG-MGMP | 1 Komentar

DOKTOR FISIKA PENGANGGURAN TIDAK LULUS TES JADI PENYAPU JALAN DI KOREA

*SEOUL* -- Krisis ekonomi yang memburuk telah memaksa seorang ilmuwan pengangguran di Korea Selatan untuk melamar jadi tukang sapu jalan pada Selasa lalu. Lamarannya ditolak.

Pemerintah Daerah Gangseo di Seoul membuka lowongan bagi lima pegawai untuk membersihkan jalanan di salah satu kawasan terpadat di ibu kota Korea itu.
Kim, ilmuwan bergelar doktor bidang fisika, menjadi satu dari 63 orang yang melamar.
Sebelas orang di antara para pelamar itu adalah lulusan universitas. Tapi, para sarjana itu akhirnya tahu bahwa tenaga telah mengalahkan otak.

Para pelamar itu diuji dengan membawa dua kantong pasir, masing-masing seberat 20 kilogram, di bahunya dan kemudian dilempar--sebuah simulasi membopong kantong sampah dan membuangnya. Baca lebih lanjut

19 Maret, 2009 Posted by | Berita | 1 Komentar