SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

DOKTOR FISIKA PENGANGGURAN TIDAK LULUS TES JADI PENYAPU JALAN DI KOREA

*SEOUL* -- Krisis ekonomi yang memburuk telah memaksa seorang ilmuwan pengangguran di Korea Selatan untuk melamar jadi tukang sapu jalan pada Selasa lalu. Lamarannya ditolak.

Pemerintah Daerah Gangseo di Seoul membuka lowongan bagi lima pegawai untuk membersihkan jalanan di salah satu kawasan terpadat di ibu kota Korea itu.
Kim, ilmuwan bergelar doktor bidang fisika, menjadi satu dari 63 orang yang melamar.
Sebelas orang di antara para pelamar itu adalah lulusan universitas. Tapi, para sarjana itu akhirnya tahu bahwa tenaga telah mengalahkan otak.

Para pelamar itu diuji dengan membawa dua kantong pasir, masing-masing seberat 20 kilogram, di bahunya dan kemudian dilempar--sebuah simulasi membopong kantong sampah dan membuangnya.


Tugas itu dilakukan dengan bolak-balik sejauh 25 meter. Menurut Chung Young-ik, pejabat pemerintah yang bertugas dalam perekrutan itu, Kim lebih lambat tiga detik dibanding pelamar pesaingnya, sehingga dia dinyatakan tak lulus ujian.

"Saya telah membuat rekor yang buruk," kata Kim kepada wartawan. Pemerintah Gangseo mengatakan rata-rata 12,6 orang bersaing untuk merebut setiap "kursi tukang sapu" pada tahun ini.

Sedangkan tahun lalu satu "kursi" diperebutkan oleh delapan orang.

Menjadi tukang sapu jalan di sana sebenarnya cukup menarik. Mereka rata-rata mendapat gaji awal 33 juta won atau sekitar Rp 275 juta.

Menurut Chung, nilai ini lebih besar daripada pendapatan sarjana baru yang bekerja di perusahaan besar. Jadi tukang sapu juga sangat aman karena mereka boleh bekerja hingga berusia 60 tahun.

Perekonomian Korea memang sedang goyah. Negeri Gingseng itu hanya menciptakan 78 ribu lapangan pekerjaan pada November, turun dari 97 ribu pada bulan sebelumnya. Menurut Kantor Statistik Nasional Korea, angka pengangguran mencapai 3,3 persen pada Desember lalu, naik dari 3,1 persen pada November dan 3 persen pada Oktober tahun lalu.

Pemerintahan Presiden Lee Myung-bak menjadikan peningkatan lapangan kerja sebagai prioritas.
*Sumber koran Tempo, 15 Januari 2009

Pendapat Ramza Harry :

Di indonesia juga ada, tetapi "ngumpet" sperti kasus PHK PT.DI, mana ilmuwannya, tidak ketahuan dan data tidak dilacak atau perusahaan lainnya. Perlu dipertimbangkan, bgmn agar ilmuwan perutnya safe dan otaknya bisa dipacu.... Ini PR bagi kita semua....

Pendapat Samuel Bison :

Saya kira sah-sah saja doktor fisika itu mencoba keberuntungannya sebagai tukang sapu, tidak ada yang salah juga tidak naif....kita saja orang Indonesia yang suka memandang rendah pekerjaan tukang sapu, tukang cuci piring, tukang cuci baju, tukang pulung, tukang batu dan sebagainya.....sering kali kita melihat status seseorang dari gelarnya, dari rumah mewahnya atau dari berapa banyak mobilnya......bagiku lebih mulia tukang sapu jalanan dari pada seorang doktor fisika yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa manfaat.....artinya saya lebih melihat kemuliaan seseorang dari karyanya buat kepentingan orang banyak, bukan dari titelnya, juga bukan rumah mewahnya apalagi banyak mobilnya. Semoga doktor fisika orang korea itu terus bersemangat berkarya bagi orang lain dan keluarganya.

Pendapat lain :

Sebenarnya kalau kita mau disebut sarjana (entah S1, S2 maupun S3), harus mampu berpikir kreatif, artinya berpikir untuk dapat menemukan : cara baru, metoda baru, temuan baru, pekerjaan baru dan seterusnya. Sayangnya kebanyakan sarjana-sarjana kita tidak dididik/diarahkan kesitu. Sehingga sulit untuk bisa bersaing tanpa pertolongan orang lain. Seorang sarjana fisika tidak harus mengabdikan diri di dunia fisika, dia harus bisa menjadi garam maupun terang didunia lain. Karena fisika itu hanya sebagian kecil dari persoalan hidup ini. Saya tidak ingin kerdil, jadi seorang sarjana harus mampu menciptakan pekerjaan. Bagaimana caranya ? dia harus peka terhadap lingkungan masyarakatnya; Contoh 1 baca koran kota Jakarta.....lihat mayoritas halaman terpakai untuk iklan, lihat mayoritas iklannya masalah sekitar kencan......kalau gitu kita bisa menciptakan pekerjaan yg berhubungan dengan hal tersebut. Contoh 2, banyak peminat tetapi sedikit yang diterima di PTN, banyak tempat bimbel untuk itu tetapi belum ada yang model elearning, jadi kita bisa ciptakan pekerjaan itu. bayangkan bimbel lewat internet. nggak usah mahal-mahal 50 rb perbln saja, berapa income anda bila ada 5000 peserta dari seluruh Indonesia. Masih banyak contoh dan pekerjaan
baru yang bisa kita ciptakan kalau kita peka terhadap lingkungan.......semoga bermanfaat.

19 Maret, 2009 - Posted by | Berita

1 Komentar »

  1. sangat inspiratif. semoga cerita ini bermanfaat
    regards
    sinyo

    Komentar oleh sinyo | 4 Maret, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: