SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

Nilai Bahasa Indonesia Anjlok Daya Nalar Siswa Rendah

Dari Suara Pembaruan, 30 April 2010

[JAKARTA] Paradigma sistem pendidikan Indonesia yang kurang menekankan pada kemampuan logika dan pemahaman dinilai sebagai salah satu penyebab mengapa nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia pada ujian nasional (UN) tahun ini anjlok.
Kegagalan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia karena nalar siswa dalam menjawab pertanyaan masih sangat rendah. Namun, hal ini bukan karena kesalahan siswa semata.
Selain itu, soal yang diujikan kepada siswa dianggap tidak sesuai standar seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, perlu analisis mendalam guna mengetahui mengapa 73 persen ketidaklulusan UN tingkat SMA/SMK/MA karena terganjal mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Demikian rangkuman pendapat dari dosen, pengamat bahasa, dan guru Bahasa Indonesia yang dihimpun SP, Kamis (29/4).

“Saya kira masalah utama adalah nalar. Pada ujian lebih banyak wacana yang harus dijawab dengan nalar dan logika siswa bersangkutan,” ucap pengamat bahasa dari Universitas Indonesia (UI), Ibnu Wahyudi.
Penulis dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini menjelaskan, kelemahan nalar itu terlihat ketika siswa mengerjakan soal wacana yang memerlukan pemaknaan. Menurut Ibnu Wahyudi, hafalan memang diperlukan namun guru juga harus siap dengan paradigma kompetisi menyimak dan menalar sesuatu.
Secara terpisah, sejumlah guru bahasa Indonesia mengungkapkan, soal UN seharusnya bisa dikerjakan dengan baik oleh siswa. Namun, ketika model soal berubah siswa tidak mampu menyelesai-kannya. Guru bidang studi Bahasa Indonesia SMA Muhammadiyah IV Boyolali, Gianto mengatakan, soal-soal ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya secara materi tidak sulit. Ia yakin siswa yang rajin membaca tak akan kesulitan karena semua materi sudah diajarkan. Hampir seluruh materi yang diuji dalam UN sebenarnya sudah pernah menjadi bahan latihan. “Tetapi, ketika model ceritanya diubah, siswa kebingungan,” tambahnya.
Ia menganalisis, di kalangan siswa terdapat kecenderungan menganggap soal dengan pertanyaan panjang pasti sulit. “Padahal yang panjang itu hanya wacana, kemudian siswa diminta untuk menjawab satu problem sederhana,” katanya. Selain itu, rendahnya kebiasaan membaca di kalangan siswa menjadi problem.
Gianto menyebutkan, siswa juga mengalami kesulitan mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan kesusastraan. Di dalam UN, kata Gianto, muncul pertanyaan untuk mempersepsikan atau memaknai sebuah cerita pendek atau puisi.
Lince Hutabarat (40), guru SMA Teladan, Medan, Sumatera Utara mengakui, materi ujian Bahasa Indonesia kemarin banyak yang membingungkan siswa karena jawaban yang harus diberi tanda silang hampir sama satu dengan yang lainnya. Ini yang membuat peserta ujian asal-asalan dalam menjawab soal.
Persoalan seperti yang diungkapkan Gianto dan Lince tersebut berhubungan dengan nalar atau logika serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

Perlu Pemahaman
Secara terpisah, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM Prof Dr Bakdi Soemanto, berpendapat, dalam proses pembelajaran di sekolah bisa saja guru telah mengajar secara benar. Namun, bila orientasi memberikan pelajaran hanya agar siswa lulus UN maka tak ada fungsi pendidikan. “Pelajaran bahasa bukan hanya teori, tetapi juga memerlukan pemahaman. Belajar Bahasa Indonesia itu harus dengan rasa, bukan sekadar membaca dan menghafal. Soal kalimat majemuk saja, banyak siswa kita yang tidak paham, terlebih lagi konsep-konsep atau kaidah dalam berbahasa Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat pendidikan dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Arief Rachman menyebutkan, perlu analisis dan bukti yang kuat untuk memutuskan apa dan siapa yang salah dalam hal menurunnya nilai Bahasa Indonesia. Langkah yang perlu dilakukan adalah membuat analisis terhadap soal UN guna mengetahui kelemahan pokok bahasan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan taraf kesulitan pada soal-soal yang diberikan pada siswa. “Harus ada analisis, antara materi dan model soal. Bisa saja materi sudah dikuasai, tetapi model soalnya membuat siswa kesulitan,” ucapnya.
Sedangkan, Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang, Prof Rasdi Ekosiswoyo menilai, merosotnya nilai UN untuk pelajaran Bahasa Indonesia secara nasional murni merupakan kesalahan pembuat soal dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
”Bukan kesalahan siswa dan guru apalagi kurikulum. Itu murni kesalahan pembuat soal, BSNP. Mereka membuat soal-soal yang tidak sesuai standardisasi tes yang seharusnya tingkat kesulitannya dari tahun ke tahun sama,’’ ujar Guru Besar Universitas Negeri Semarang ini.
Menteri pendidikan M Nuh mengemukakan, kementeriannya akan menganalisis mengapa para siswa tersebut gagal dalam pelajaran Bahasa Indonesia. “Apakah karena soalnya terlalu sulit, sebab tentang prosa banyak yang gagal. Kami akan evaluasi tingkat kesulitannya. Kami akan melihat spesifikasi gurunya, bahan pelajarannya apakah mereka kekurangan perpustakaan atau buku bacaan, kita akan berikan solusi,” ucapnya.
Ibnu Wahyusdi menambahkan, kecenderungan menggunakan bahasa daerah tidak membawa pengaruh pada anjloknya nilai bahasa Indonesia. Sebab, bahasa Indonesia sudah masuk hingga ke pelosok, dan bahasa daerah justru memperkayanya.
“Kita harus paham bahwa Bahasa Indonesia tidak hanya digunakan sebagai bahasa tutur, tetapi sudah diujikan sebagai wacana tulis. Inilah yang jadi masalah karena dibutuhkan sedikit berpikir,” katanya.
Sedangkan menurut Kepala Sekolah SMA Kolese Kanisius Jakarta, Baskoro Poedjinoegroho, anjloknya nilai Bahasa Indonesia karena dua hal. Pertama, banyak siswa yang tidak memiliki motivasi untuk belajar bahasa Indonesia. Di banyak sekolah, anak justru lebih termotivasi untuk belajar bahasa Inggris dan berprestasi ketimbang bahasa Indonesia.
Kedua, diperkirakan kualitas guru Bahasa Indonesia rendah sehingga tidak mampu memotivasi siswa untuk mencintai mata pelajaran tersebut.
Hal ini antara lain disebabkan oleh kenyataan banyak guru yang menjadi guru bukan karena merupakan pilihan atau cita-citanya.
Terutama Bahasa Indonesia, pada umumhya menjadi pilihan terakhir atau terpaksa karena tidak punya pilihan lain, setelah gagal masuk ke bidang pendidikan yang dicita-citakan.
“Zaman sekarang jarang ada yang mau jadi guru karena cita-cita. Ini mengerikan, bahwa guru adalah jabatan bukan menjadi cita-cita, padahal untuk mendidik anak-anak,” ujarnya.
Dia menyebutkan, hal ini juga dipengaruhi oleh paradigma yang menganggap guru yang lebih hebat adalah di bidang matematika, Bahasa Inggris atau Fisika. Di samping itu, metodologi pengajaran guru di Indonesia juga masih lemah. Para guru tidak mempunyai kreatifitas menciptakan metode pangajaran sendiri, yang menyenangkan siswanya. Guru yang hebat adalah tidak hanya mengajar, tetapi mampu membangkitkan kecintaan siswa terhadap Bahasa Indonesia.
“Karena gurunya tidak cerdas, sehingga tidak mampu mendorong dan membangkitkan kembali motivasi anak belajar Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia kemudian menjadi menjemukan karena guru sendiri mengajar tidak menarik,” katanya.[D-13/IMR/142/152/155]

1 Mei, 2010 - Posted by | Berita, Uncategorized | , ,

2 Komentar »

  1. waduh kalo ini memang benar… sungguh memprihatinkan anak-anak sekarang…😦

    Komentar oleh wongmultimedia | 1 Mei, 2010

  2. Kalau berminat gabung di komunitas kami bisa langsung join di grup facebook Komunitas Blogger en Netter Pontianak (Beleter.Com). Tq

    Komentar oleh Komunitas Blogger en Netter Pontianak | 15 Juni, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: