SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

STRATEGI MENGAKTIFKAN SISWA DALAM BELAJAR

Siswa SD N 3 Batang Tarang Kab. Sanggau

Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya  telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran  aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.

Beberapa kalangan berpendapat  bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif  ke model pembelajaran aktif.

Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam sebuah tulisannya  yang berjudul Active Learning, di bawah ini akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif.  Menurut L. Dee Fink, pembelajaran  aktif  terdiri dari  dua komponen utama yaitu: unsur pengalaman (experience), meliputi  kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (obeserving) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others).

Baca lebih lanjut

Iklan

21 Agustus, 2010 Posted by | Mutu Pendidikan | , | 1 Komentar

PENGERTIAN E-LEARNING


Banyak pakar yang menguraikan pengertian e-learning dari berbagai sudut pandang. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan internet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001).

E-learning juga didefinisikan sebagai sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaring-an komputer, dan lain-lain (Learn Frame.Com, 2001). Definisi lain menyim-pulkan bahwa e-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan kompu-ter dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalam-nya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players.

Penggunaan teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-Room atau web sites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, email, computer aided assessment, animasi pendidikan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, dan lain sebagainya. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda (Thomas Toth, 2003).

Jaya C. Koran (2002) mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pe-ngajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi atau bimbingan. Selanjutnya Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

20 Agustus, 2010 Posted by | Artikel, Mutu Pendidikan | , | Tinggalkan komentar

EVALUASI DIRI SEKOLAH

Kondisi sekolah...

Dengan dikeluarkannya Permendiknas no 63 tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yang mengharuskan “terbangunnya budaya mutu pendidikan” serta “terpetakannya mutu pendidikan yang rinci pada satuan pendidikan” menjadikan tugas Kepala Sekolah melaksanakan Evaluasi Diri Sekolah sangat penting.

Dengan melaksanakan EDS ini maka kepala sekolah/madrasah akan lebih dapat melaksanakan kompetensi manajerialnya secara menyeluruh dan bermakna yang akan membantu peningkatan kinerja sekolah – khususnya dalam melihat sejauh manakah sekolah/madrasah telah mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP), serta kekuatan dan kelemahannya sehingga sekolah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata mereka.

EDS adalah evaluasi internal yang yang dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan pendidikan (stakeholders) di sekolah untuk mengetahui secara menyeluruh kinerja sekolah dilihat dari pencapaian SPM dan 8 SNP dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya secara pasti sehingga akan diperoleh masukan dan dasar nyata untuk membuat RPS/RKS dalam upaya untuk menumbuhkan budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Ada beberapa hal penting yang kita perhatikan disini:

  1. Evaluasi yang bersifat internal – dilakukan oleh dan untuk mereka sendiri, bukan dilaksanakan oleh orang lain. Ini adalah evaluasi internal, bukan evaluasi external oleh pihak luar.
  2. Akan mengevaluasi seluruh kinerja sekolah yang akan meliputi aspek-aspek manajerial dan akademis.
  3. Mengacu pada SPM dan 8 SNP yang hasilnya akan membantu program nasional dalam upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan secara umum.
  4. Untuk kepentingan sekolah itu sendiri, bukan untuk perbandingan dengan sekolah sekolah lain atau untuk akreditasi sekolah.
  5. Hasil EDS sebagai bahan masukan dan dasar dalam penulisan RPS/RKS maupun RAPBS/RAKS.
  6. Dilaksanakan minimal setahun sekali oleh semua stakeholder pendidikan di sekolah, bukan hanya oleh kepala sekolah/madrasah saja dengan bimbingan dan pengawasan Pengawas sekolah.

Dari berbagai sumber…

Modul lengkapnya silahkan download di sini :

1. BAHAN AJAR EVALUASI DIRI SEKOLAH  DOWNLOAD DI SINI

2. PANDUAN TEKNIS EVALUASI DIRI SEKOLAH DOWNLOAD DI SINI

3. INSTRUMEN  EVALUASI DIRI SEKOLAH DOWNLOAD DI SINI

4. LAPORAN EVALUASI DIRI SEKOLAH DOWNLOAD DI SINI

18 Agustus, 2010 Posted by | Artikel | , | 46 Komentar

SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama prestasi belajar para peserta didik. Komitmen pemerintah ini telah dinyatakan di dalam Renstra Kementerian Pendidikan Nasional. Di dalam Renstra tersebut terdapat beberapa program peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan yang selaras dengan SPMP.

Beberapa program dalam Renstra tersebut  telah dilaksanakan sebagai perwujudan komitmen Pemerintah melalui inisiatif peningkatan mutu pendidikan secara nasional. Salah satu dari banyak prestasi Pemerintah adalah pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP).

SPMP dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional  dan Kementerian Agama pada tahun 2007 dan 2008, setelah kedua kementerian ini melakukan kajian ulang terhadap kapasitas LPMP dan P4TK.  Hasil dari kajian ulang LPMP dan P4TK mendorong dikembangkannya Model Penjaminan Mutu Pendidikan (MPMP).

Kementerian Pendidikan Nasional  dan Kementerian Agama juga telah melakukan beberapa lokakarya nasional untuk konsultasi dengan praktisi dan pemikir pendidikan mengenai MPMP ini pada tahun 2007 dan 2008. Berdasarkan masukan konsultasi dan sosialisasi hasil kajian LPMP dan P4TK, MPMP kemudian disempurnakan pada tahun 2008 menjadi Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP). SPMP telah disetujui oleh Panitia Pengarah Nasional pada bulan Juli 2008.

Beberapa strategi penjaminan mutu yang ada dalam SPMP telah diterapkan oleh Kemendiknas dan Kementerian Agama. Sedangkan beberapa strategi penjaminan mutu yang baru akan diujicobakan pada tahun 2009. Strategi penjaminan mutu yang baru diharapkan dapat dilaksanakan secara progresif baik oleh kementerian Pendidikan Nasional  maupun oleh Kementerian Agama mulai pada tahun 2010.

17 Agustus, 2010 Posted by | Artikel | , | Tinggalkan komentar