SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

MIMPI SEORANG KEPALA SEKOLAH

CATATAN PERJALANAN

KARYA : SUASANA SRINI *)

Pak Teguh, Sang Kepala Sekolah

”Dulu guru pagi-pagi datang hanya untuk menggugurkan kewajiban. Sesampai di sekolah menyuruh murid untuk membuka buku paket halaman sekian lalu kerjakan,” kata Pak Teguh Karyadi seorang Kepala Sekolah SDN 20 di pelosok nun jauh di Pedalaman Batang Tarang Kabupaten Sanggau, Kalbar.

”Apa maksudnya menggugurkan tugas Pak?”

”Ya itu semacam menjalankan rutinitas. Kan haknya sudah diterima, tinggal menggugurkan kewajibannya. Tapi itu dulu, sekarang ini setelah kami sedikit banyak mempelajari MBS-PAKEM tidak begitu. Setidaknya pagi-pagi kami berangkat dengan hati karena ada sebuah visi.”

Sejak reformasi bergulir pada tahun 1998 banyak pihak yang mengkritisi mutu pendidikan kita. Bahkan tak jarang yang menuding bahwa masih rendahnya kualitas pendidikan menjadi salah satu biang keladi terjadinya krisis multidimensi. Lalu gema ’pembaharuan kembali’ pendidikan bertiup dari berbagai penjuru. Masyarakat peduli pendidikan dan para praktisi menawarkan serta mengujicobakan berbagai bentuk pendekatan. Bahkan ada beberapa yang telah memulai jauh sebelumnya. Pemerintah dengan UU Sisdiknas pada tahun 2003 membuka keran pembaharuan itu. Ada yang memilih untuk terlibat dalam gerakan itu, tetapi banyak juga yang masih ingin berada pada zona nyaman status quo. Terlibat dalam sebuah gerakan pembaharuan memang akan menjadi semakin repot, tetapi kalau dilakukan dengan hati akan terasa lain. Begitu sebaliknya, bila bergeming saja dari gegap gempita itu tentu tidak perlu sibuk, tetapi sesungguhnya akan menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Pak Teguh Karyadi salah seorang Kepala sekolah yang saya ceritakan di atas memilih untuk terlibat. Ia bertekad untuk menyediakan pendidikan bermutu bagi masyarakat sekitarnya. Pendidikan bermutu menurutnya adalah pendidikan yang dapat memfasilitasi anak-anak mengembangkan berbagai kecerdasannya: kecerdasan nalar, sosial, emosional dan mental spiritual. Ia memiliki keyakinan bahwa anak yang berbagai kecerdasannya berkembang seimbang akan mampu memecahkan kesulitan hidup, kreatif dan berhasil di masa depan.

Ingin Mewujudkan Otonomi Pendidikan

Lelaki yang sorot matanya memancarkan optimisme itu mengungkapkan bahwa saat ini telah terbuka lebar kesempatan untuk mengelola dan mengembangkan sekolahnya masing-masing. Pendekatan MBS-PAKEM dan penerapan KTSP (Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan) memberikan keleluasaan untuk itu. Ia mengatakan pertama kali mengenal MBS-PAKEM adalah ketika Yayasan Wahana Visi Indonesia di Kabupaten Sanggau (Mitra kerja World Vision Indonesia) bekerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat memfasilitasi pelatihan. Setelah itu dilanjudkan dengan studi banding ke sekolah-sekolah MBS-PAKEM di Probolinggo dan Seminar Pendidikan di Bogor (kelompok Sekolah Alam). Selain itu ia juga banyak membaca buku terkait dengan reformasi pendidikan. Hal-hal tersebut menjadi pemicu tekad untuk mewujudkan kegelisahannya tetang sebuah sekolah yang bermutu. Sabagai tambahan catatan, MBS-PAKEM (Manajemen Berbasis Sekolah – Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) adalah sebuah pendekatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pendekatan ini awal mulanya digagas dan dipromosikan atas kerjasama UNICEF-UNESCO dan Departemen Pendidikan Nasional. Nama pendekatan ini sebenarnya CLCC (Creating Learning Community for Children = Menciptakan Masyarakat Penduli Pendidikan), tetapi di kalangan sekolah dan masyarakat lebih dikenal dengan MBS-PAKEM).

Pak Teguh meneruskan paparannya. Dalam MBS-PAKEM, ada 3 pilar yang harus dikembangkan secara sinergis, yaitu pertama: Manajemen Berbasis Sekolah. Sekolah diberi kewenangan untuk mengembangkan visi-misinya, menyusun Rencana Anggaran dan Pendapatan Sekolah bersama stakeholder, mengekplorasi berbagai sumber daya dan membuat pertanggungjawaban secara transparan. Hal terpenting lain dalam MBS adalah pengkontektualisasian kurikulum dengan kebutuhan dan permasalahan setempat. Karena lembaga pendidikan harus dapat memfasilitasi anak memiliki kepekaan sosial dan mampu memecahkan persoalan wilayahnya. Kalau menurut Romo Mangun atau tokoh Pendidikan untuk Pembebasan Paulo Freire, pendidikan haruslah membumi, ada dialog antara yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitarnya.

Yang kedua pilar Belajar dan Mengajar. Pendekatan ini memperkenalkan pola belajar mengajar yang lebih berpusat pada anak sebagai subyek belajar. Mengajar tidak lagi sebagai proses guru ’menjejalkan’ ilmu pengetahuan kepada murid tetapi sebagai sarana saling belajar. Siswa difasilitasi untuk terlibat aktif dan dapat belajar dari berbagai sumber. Guru sebagai fasilitator diharapkan dapat menggunakan berbagai metode belajar dan mengembangkan berbagai jenis media pendidikan yang menarik, dalam rangka mengelola kelas yang lebih menyenangkan. Kelas sebagai tempat belajar tidak lagi dibatasi oleh dinding tembok, tetapi seluruh sekolah dan lingkungan sekitarnya menjadi prasarana belajar bagi siswa.

Dalam evaluasi digunakan berbagai cara dan siswa diberikan umpan balik. Penilaian tidak hanya diarahkan pada satu ranah kecerdasan yaitu intelektual saja tetapi juga ranah kecerdasan yang lain, misalnya kreatifitas, perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan hidup lain. Buku sebagai salah satu gerbang ilmu memiliki peran yang sangat penting, untuk itu perpustakaan sekolah juga dikembangkan di sekolahnya. Untuk meningkatkan minat baca siswa, diberlakukan kegiatan membaca senyap di pagi hari sebelum masuk kelas dan jam istirahat kalau anak tidak mau bermain. Berbagi buku baik fiksi maupun non fiksi disediakan di perpustakaan sekolah dan sudut baca di masing-masing kelas.

Yang ketiga adalah pilar Partisipasi Masyarakat. Masyarakat, orang tua dan komite sekolah mempunyai peranan penting dalam upaya memajukan mutu pendidikan. Keterlibatan orang tua siswa dan komite sekolah tidak hanya dalam bentuk pertemuan-pertremuan saja tetapi lebih jauh dari itu. Bentuk keterlibatan itu antara lain: ikut meningkatkan prasarana belajar seperti renovasi gedung, membangun perpustakaan, membantu membuka kebun sekolah untuk kegiatan muatan lokal, mendampingi anaknya belajar di rumah. Dan tentu juga ikut mengawasi dan mengontrol sekolah.

Perubahan paradigma

Untuk mewujudkan impiannya tentang pendidikan bermutu, PR yang pertama kali dikerjakan adalah berdialog dengan mitra kerjanya yaitu guru. Perubahan paradigma guru dari sekedar menggugurkan tugas ke guru yang memiliki hati dan visi atau ’guru sejati’ (meminjam istilah dari lembaga TRUE Bogor) menjadi tonggak awal perubahan. Menurutnya kalau perubahan mind set telah terjadi maka ketrampilan-ketrampilan teknis berikutnya akan lebih mudah ditambahkan.

Dialog dengan para guru dilakukan baik secara informal – dari hati ke hati maupun secara formal melalui diskusi tiap hari Sabtu. Tiap Sabtu setelah siswa pulang jam 11 maka giliran guru yang belajar. Dalam KKG (Kelompok Kerja Guru) mini itu selain memberikan tantangan-tantangan dan memecahkan kesulitan mengajar juga membagikan hal-hal baru yang didapat dari buku atau hasil-hasil pelatihan yang diikuti. ”Sayangnya di sini belum bisa akses internet, kalau sudah ada tentu akan sangat menolong guru dan siswa belajar sebanyak-banyaknya,” celetuknya dengan penuh kerinduan di sela-sela diskusi.

Melakukan Sendiri

Lebih lanjud Pak teguh menyatakan bahwa kekonsistenan antara apa yang diucapkan dengan tindakan menjadi salah satu kunci utama dalam memulai sebuah perubahan. Ia berusaha untuk mempraktekkan terlebih dahulu apa saja yang telah dipelajari, setelah itu baru mengajak para guru untuk belajar bersama dan melakukan. Selain memberikan contoh secara langsung, ia berusaha menyederhanakan berbagai konsep menjadi lebih operasional, misalnya bagaimana menjabarkan kurikulum dalam silabus dan rencana pelaksanaan pengajaran, mengembangkian indikator pembelajaran yang bisa diukur, mengembangkan pembelajaran tematis, dll. Ia juga menyediakan formulir-formulir sederhana yang bisa langsung digunakan oleh guru. Ia memberikan keteladanan baik dalam upaya meningkatkan kualitas diri seorang guru maupun mempraktekkan hal-hal praktis terkait dengan peningkatan mutu pendidikan.

Berbasis lokal dan berwawasan global

Seperti telah diungkapkan di atas, ia bersama para guru ingin mewujudkan pendidikan yang membumi namun sekaligus memiliki wawasan global. Ia mengharapkan proses belajar mampu memfasilitasi siswa mengembangkan kepekaan sosial dan kemampuan memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Beberapa contoh yang disebutkan terkait dengan hal tersebut misalnya: dalam pelajaran tentang organisasi pemerintahan, siswa diajak langsung ke kantor desa untuk melakukan wawancara tentang tugas dan tanggungjawab yang diemban, mengamati apa saja yang dilakukan petugas untuk melayani masyarakat dan menuliskan serta melaporkan hasil kunjungan. Contoh lainnya, dalam pelajaran muatan lokal, mereka merencanakan untuk mengajak siswa belajar tentang budidaya karet, mengingat karet adalah kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Selain itu mereka juga ingin memfasilitasi siswa belajar tentang budidaya tanaman sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan sayur mayur, daerah tersebut masih mendatangkan dari wilayah lain. Pembelajaran budi daya perkebunan dan pertanian di sini tidak dimaksudkan agar siswa menguasai ketrampilan teknis budidaya tetapi sebagai sarana untuk pembelajaran dan penyadaran tentang potensi-potensi daerah.

Untuk menunjang pengembangan wawasan global, sekolah tersebut juga memberikan pelajaran Bahasa Inggris bagi para siswa. ”Bahasa Inggris adalah bahasa global, sekalipun di daerah pelosok kami juga ingin mengajak siswa untuk mempelajarinya sejak dini”, ungkapnya penuh keyakinan.

Kecerdasan Majemuk

Pendidikan bermutu juga memfasilitasi siswa untuk berkembang secara komprehensif. Berbagai ranah kecerdasan perlu mendapatkan situmulasi yang seimbang. Untuk itu dalam penjabaran kurikulum ke dalam silabus dan perencanaan pengajaran harus dipastikan bahwa pengembangan komponen kecerdasan majemuk tersebut terakomodir. Untuk mengembangkan nalar, daya analisa dan kretifitas dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas dalam bentuk percobaan-percobaan, pemecahan masalah, membuat proyek-proyek, pengamatan & penulisan laporan dan lain-lain.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) memberikan keleluasaan untuk melakukan kontekstualisasi kompetensi untuk anak yang ingin dibangun di tiap-tiap daerah sesuai dengan masalah-masalah, kebutuhan, potensi dan arah pembangunan daerah.

Pak Teguh mengakhiri diskusi dengan menyampaikan tekadnya bahwa sekolah yang ia pimpin sedang berjuang untuk mengupayakan agar anak yang lulus tidak hanya memiliki kemampuan calistung (membaca, menulis & berhitung) dan lulus UASBN, tetapi juga memiliki kecakapan hidup atau calistung fungsional untuk dapat mengupayakan hidup yang lebih baik ke depan dan menjadi change agent di wilayahnya maupun masyarakat yang lebih luas. Semoga!!

Anak-anak sedang berdiskusi di perpustakaan

15 Mei, 2011 - Posted by | Artikel |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: