SUKSES SELALU

NIKMATILAH HIDUP..BEKERJA DENGAN ENJOY…JANGAN LUPA BERDOA.

Maria, Sang Kepala sekolah wanita pertama di daerah 3T…

Ditulis oleh : Adrianus Marsel dari Lifestyle. Kompasiana.com seijin penulis ditampilkan disini.

970220_164634623717171_632074643_aDalam kesunyian malam terdengar suara tangisan anak bayi di sebuah gubuk kecil di desa merakai kabupaten sintang. Masyarakat desa merakai, tumpah ruah  mencari sumber suara bayi tersebut. Tak begitu lama mereka mencari suara tersebut, sebab suara tangisan bayi itu pecah membelah kesunyian malam. Dengan jelas terpampang membahana seorang gadis kecil yang diberi nama Maria Victoria. (*sambil jingkrak-jingkrak, menari tu bayi..wkwkwk)

Dengan kesabaran dan ketekunan kedua orang tuanya, Maria Victoria yang akrab disapa Maria tumbuh seperti sedia kala sehingga dia dapat bersekolah di SD Negeri Merakai. Semenjak bersekolah di SD merakai, Maria tidak pernah mendapatkan  prestasi yang gemilang, walaupun begitu dia selalu tekun dan berusaha keras untuk meraih impian-impiannya yang tumbuh ketika menyaksikan langsung betapa menderitanya hidup dalam kesusahan.

Setelah menyelesaikan sekolah di bangku SD, kemudian maria melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri yang juga masih masuk di wilayah Merakai. Karena jarak antara sekolah dan tempat tinggal yang cukup jauh maka dengan bermodalkan sepeda ontel yang diberikan kedua orangtuanya maria terus memacu cepat sepeda ontelnya dengan penuh semangat. Di bangku SMP, maria mulai menunjukkan kemampuannya. Prestasi demi prestasi pun diraihnya yang membuat para guru terpukau dengan kemampuan maria. Namun sayang, ketika menyelesaikan bangku SMP. Kedua orangtua maria sudah tidak mampu lagi untuk menyekolahkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, namun kedua orangtuanya menyarankan kepada maria jika ingin bersekolah di bangku SMA maka dia harus merantau, ke tempat keluarga orangtuanya di Sintang. Dengan syarat bahwa maria harus membantu mengurus pekerjaan rumah keluarganya itu.

Mendengar saran kedua orangtua, akhirnya maria memutuskan untuk merantau. Selama tiga tahun lamanya, maria sukses mendulang prestasi dari tingkat sekolah hingga ke tingkat kabupaten mewakili SMA Negeri 1 Sintang. Yang membuatnya mendapatkan beasiswa dari yayasan untuk melanjutkan pendidikan ke FKIP UNTAN Pontianak jurusan Bahasa Inggris. Tak banyak yang diharapkan Maria selama kuliah, yaitu hanya ingin meneruskan perjuangan para dewan guru yang sudah bersusah payah membimbing generasi muda seperti maria saat itu.

Tak berselang beberapa lama, Maria akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah dengan gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd). Selama tiga tahun maria selalu sabar mengikuti aturan yang dibuat oleh yayasan yaitu tidak diperkenankan untuk melamar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) namun melihat kondisi yang biasa saja tepat di tahun 2000 maria akhirnya memutuskan untuk melamar sebagai PNS di lingkungan kabupaten Sintang. Keputusan yang tepat bagi Maria dengan melepas status guru yayasan menjadi guru PNS sebab banyak peluang baginya untuk ikut berkompetisi salah satunya sebagai guru berprestasi di tingkat kabupaten hingga provinsi. Selama delapan tahun mengabdi. Tepat di tahun 2008, Maria pun mendapatkan beasiswa tugas belajar dari pemerintah daerah (PEMDA) Sintang untuk melanjutkan Pendidikan ke S2 Pengembangan kurikulum pascasarjana UPI Bandung.

Selama bekerja maria selalu menyebar pesona senyum nan menawan. Tiada hari tanpa tersenyum dan menyapa. Maria tidak pernah pandang bulu terhadap siapapun (*dari bulu yang nampak hingga yang tak nampak. Bulu Ketek hingga bulu….buluan….wkwkwk…). Tua maupun muda tetap dianggapnya sebagai sahabat. Tekun dan disiplin. Berkat ketekunan dan kedisplinan yang dijalankan maria selama bekerja membuat dirinya diangkat pejabat setempat sebagai Kepala SMK Negeri Ketungau Hulu. Berat rasanya beban yang diberikan oleh pejabat setempat sebab iklim dan suasana yang masih tergolong pendalaman, yang masuk dalam kategori kawasan 3T (Tertinggal, Terluar dan Terisolir) sehingga arus transportasi yang masih menggunakan tanah merah sebagai pondasi utama dan informasi yang masih sangat-sangat minim. Tantangan yang paling besar bagi Maria adalah harus meninggalkan keluarga yang sudah lama hidup di kawasan perkotaan. Namun hal itu tak membuatnya gentar sebab sesuai dengan amanah yang diberikan harus diembannya. Alhasil, Tanah kuning berlumpur, ditemani makanan pepes ikan asin gembung bersambalkan terasi membuat Maria tetap semangat. Walau arang melintang, akan ku daki terus hingga titik darah penghabisan. Itulah motto hidup maria selama hidupnya.

***Tulisan ini hanya untuk hiburan semata, dan sudah mendapat persetujuan dari narasumber***

19 Juni, 2013 - Posted by | Artikel | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: